Aptrindo Keluhkan Sedikitnya Regenerasi Sopir Truk

Kompas.com - 20/08/2019, 08:02 WIB
Ilustrasi truk: Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi memberikan sosialisasi kepada supir truk terkait pelarangan truk bertonase lebih dari 8 ton melintas di Jalan KH. Noer Ali, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Senin, (26/11/2018). KOMPAS.com/-DEAN PAHREVIIlustrasi truk: Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi memberikan sosialisasi kepada supir truk terkait pelarangan truk bertonase lebih dari 8 ton melintas di Jalan KH. Noer Ali, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Senin, (26/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah sopir truk di Indonesia diyakini oleh Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia ( Aptrindo) terus berkurang. Salah satu muara permasalahannya adalah, minimya regenerasi profesi yang mendukung laju perekonomian negara lewat transportasi dan distribusi ini.

Wakil Ketua Umum Aptrindo Kyatmaja Lookman, mengatakan, menjadi sopir truk itu tidak ada sekolahnya. Seseorang menjadi sopir biasanya terpaksa, karena mau coba kerja di mana-mana tidak bisa, akhirnya menyupir saja.

Baca juga: Volvo Trucks Indonesia Tunggu Prinsipal Soal Truk Listrik

"Jadi supir truk itu butuh lima tahun sampai dapat SIM B2 untuk mengemudikan kendaraan besar. Kemudian, dulu itu kan sopir adalah alumni kernet. Sekarang, membiayai kernet itu mahal, karena upah minimum regional juga naik terus," ujar Kyatmaja, saat dihubungi Kompas.com, Senin (19/8/2019).

Kyatmaja menambahkan, saat ini kernet banyak yang memilih untuk menjadi buruh atau tukang bangunan, agar bisa sering pulang. Akhirnya, supir ini rata-rata jalan tanpa kernet. Ketika jalan tanpa kernet, akhirnya tidak ada lagi regenerasi sopir truk.

Pemkab Luwu siapkan 4 truk logistik untuk pengungsi korban bencana alam asal Palu, Donggala dan Sigi Biromaru, Kamis (11/10/2018)KOMPAS.com/AMRAN AMIR Pemkab Luwu siapkan 4 truk logistik untuk pengungsi korban bencana alam asal Palu, Donggala dan Sigi Biromaru, Kamis (11/10/2018)

"Sekarang ini, generasi sopir truk adalah generasi senior rata-rata, usia 40 tahun sampai 50 tahun. Pria usia 20 tahun sampai 30 tahun lebih banyak yang memilih ojek atau taksi online. Sebab, mereka bisa sering pulang ke rumah, bisa mencicil mobil, dan lainnya. Itu menjadi pilihan yang terbaik menurut mereka," kata Kyatmaja.

Tidak adanya kernet yang merupakan calon atau cikal bakal sopir truk, maka saat ini lebih banyak pengemudi yang berusia tua yang beroperasi. Perusahaan pun kesulitan untuk mencari sopir truk.

Baca juga: Truk Listrik Volvo Akan Masuk ke Indonesia

Kyatmaja memberikan contoh kasus tentang pengusaha nikel di Manokwari, yang didapatnya dari Menteri Tenaga Kerja. "Pertama kali dibuka itu dibutuhkan 80 sopir dengan persyaratan SIM B2 Umum. Tapi yang daftar hanya 9 orang. Akhirnya, diturunkan lagi kualifikasinya, jadi SIM B1. Walaupun supir mobil besar, golongan empat. Tetap saja yang daftar cuma 9 orang," ujar Kyatmaja.

Akhirnya, lanjut Kyatmaja, dibebaskanlah kualifikasinya oleh pemilik tambang. Barulah semuanya mendaftar. Namun, dengan begitu tingkat kecelakaannya menjadi tinggi.

"Beli truk tidak susah, tapi dalam kondisi seperti ini, cari pengemudinya yang susah," kata Kyatmaja.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X