Jangan Lupakan Potensi Bahaya Era Mobil Listrik di Indonesia

Kompas.com - 04/03/2019, 07:42 WIB
Mercedes-Benz Privilege Parking with EQ Power Charging yang di Plaza Indonesia, Jakarta, tepatnya di area parkir P2. Fasilitas pengisian baterai untuk mobil listrik dan mobil ramah lingkungan tersebut disediakan oleh Mercedes Benz Distribution Indonesia khusus untuk pelanggannya mulai Senin (24/9/2018).Kompas.com/Alsadad Rudi Mercedes-Benz Privilege Parking with EQ Power Charging yang di Plaza Indonesia, Jakarta, tepatnya di area parkir P2. Fasilitas pengisian baterai untuk mobil listrik dan mobil ramah lingkungan tersebut disediakan oleh Mercedes Benz Distribution Indonesia khusus untuk pelanggannya mulai Senin (24/9/2018).

Setiap mobil listrik, membopong baterai dengan tegangan tinggi, jadi harus benar-benar aman untuk konsumen dan lingkungan. Penggunaan meterial untuk sasis, interior, sampai bodi, itu memang dipilih yang tidak mudah menghantarkan listrik.

Baca juga: Sebentar Lagi Blue Bird Layani Penumpang dengan Mobil Listrik

Basis Produksi

Berbagai faktor ini, kata Eko, harus betul-betul diperhitungkan pemerintah jika memang ingin masuk ke era mobil listrik. Jangan sampai Indonesia nantinya cuma jadi pasar dari negara-negara basis produksi mobil listrik dunia, seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, India, Thailand, China, bahkan Malaysia.

Dari segi manufaktur, demi mencapai skala ekonomi produksi, konsep mobil listrik adalah memanfaatkan satu platform untuk pasar dunia. Artinya, permesinan, ketersediaan pasokan bahan baku, pasar domestik, termasuk paket kebijakan pemerintah bakal jadi penentu satu negara ditunjuk prinsipal sebagai basis produksi.

Mobil listrik ini investasinya mahal, maka prinsipal akan sangat hati-hati menentukan pilihan negara mana yang jadi basis produksi. Sisanya, hanya akan diimpor CBU saja,” ucap Eko.

Insentif menjadi salah satu daya tarik prinsipal untuk menentukan keputusan satu negara jadi basis produksi. Sejumlah negara di mana mobil listrik laris, salah satu faktor utamanya adalah insentif, mulai dari Norwegia, China, AS, Eropa, atau Jepang sekalipun. Insentif bisa berupa diskon harga langsung ke konsumen, relaksasi pajak buat produsen, sampai pada akses umum, seperti gratis biaya tol, parkir, electric road pricing (ERP), dan lain sebagainya.

Baca juga: Besaran Insentif untuk Mobil Listrik Anjuran Peneliti

Mobil listrik VE-1 dari Honda bekerja sama dengan GAC hadir di Guangzhou Motor Show 2018Paultan.org Mobil listrik VE-1 dari Honda bekerja sama dengan GAC hadir di Guangzhou Motor Show 2018

Hukum dan Infrastruktur

Faktor lain yang harus diperhatikan pemerintah untuk masuk ke era mobil listrik, adalah pasokan energi dalam jumlah besar untuk kebutuhan konsumsi. Menurut Eko, sejumlah negara maju memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), untuk jaminan pasokan listrik di negara mereka. Indonesia perlu menciptakan hal serupa.

“Paling penting, melakukan pengembangan infrastruktur jaringan pengisian ulang cepat, dan tersebar di sekeliling kota. Jangan memaksa orang beli mobil listrik, tetapi tanpa ada kepastian pasokan energi di sekelilingnya, bakal sulit mencapai target pengurangan efek gas rumah kaca sesuai Kesepakatan Paris 2015, lalu,” kata Eko.

Demi keselamatan konsumen, lanjut Eko, pemerintah juga harus menetapkan hukum baru, soal laik jalan dan pengecekan berkala.  Wajib ada larangan bagi konsumen untuk melakukan modifikasi baterai, termasuk mengganti atau memperbaiki sendiri. Setiap merek yang memasarkan mobil listrik, wajib memberikan layanan Home Service, sehingga ketika ada masalah di jalan atau di rumah, bisa langsung diatasi.

“Ingat, mobil listrik ini menggendong baterai dengan tegangan tinggi, harus dipastikan keamanannya buat masyarakat, jangan sampai ada hal-hal yang disesalkan nanti,” kata Eko.

Baca juga: Efektivitas Mobil Listrik Bergantung pada Subsidi di Indonesia

Faktor lain yang juga sangat penting untuk diperhatikan, adalah soal teknologi daur ulang baterai yang sampai saat ini hanya dimiliki oleh Belgia. Limbah baterai masuk kategori B3, sangat beracun bagi manusia, sehingga jika tidak dikuasai atau setidaknya diciptakan sistem daur ulang yang baik, maka bakal punya potensi berbahaya.

“Pengelolaan baterai bekas harus sangat ketat mengingat limbahnya mengandung B3, yang bukan saja merusak lingkungan, tetapi bisa mencederai manusia jadi cacat,” kata Eko.

Halaman:



Close Ads X