Efektivitas Mobil Listrik Bergantung pada Subsidi di Indonesia

Kompas.com - 30/01/2019, 09:24 WIB
Ilustrasi mobil listrik. The GuardianIlustrasi mobil listrik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Program low carbon emission vehicle (LCEV) dihadirkan pemerintah Indonesia sebagai salah satu jalan keluar penurunan emisi gas buang. Rencananya, pada 2030, sebanyak 29 persen emisi gas rumah kaca dapat turun dengan hadirnya program kendaraan listrik.

Namun, berdasarkan penelitian Economic Research Institute for ASEAN and EAST Asia (ERIA) ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait penggunaan kendaraan listrik. Terutama dari sisi energy security.

“Banyak dampak positif bila beralih ke kendaraan listrik. Namun bila pembangkit listrik yang dikembangkan saat ini masih berfokus pada penggunaan batu bara, ini tidak akan memberi dampak signikan pada perbaikan lingkungan. Walaupun kendaraan listrik sudah banyak diproduksi,” ucap Senior Research Fellow The Institute of Energy Economic, Japan (IEEJ), Ichiro Kutani, dalam pemaparannya di Seminar Indonesia - Jepang Automotif dengan tema Electrified Vehicle Concept of xEV and Weel to Wheel, di Kementerian Perindustrian, Selasa (29/1/2019).

Kutani mengungkapkan kehadiran kendaraan listrik dapat berpengaruh pada tiga sektor yakni ekonomi, lingkungan dan energi. Dalam hal energi, kehadiran kendaraan listrik dapat menurunkan impor minyak mentah.

Honda PCX Listrik Siap Meluncur, Tapi Bukan untuk Dijual

“Semakin banyak kendaraan listrik diproduksi maka akan membuat rasio energi mengalami penurunan. Emisi karbon juga mengalami penurunan. Untuk ekonomi akan menurunkan impor minyak dan merangsang investasi,” ucap Kutani.

Kutani mengungkapkan untuk kendaraan listrik yang perlu diperhatikan adalah faktor harga. Kendaraan listrik masih cukup mahal dan diharapkan ada jalan keluar untuk masalah ini.

Salah satunya dengan mendorong investasi disertai dengan subsidi dari pemerintah. Ini akan digunakan untuk mengembangkan energi terbarukan dan mengurangi harga mobil listrik.

“Subsidinya tentu besar untuk membuat masyarakat mampu membeli kendaraan listrik. Ini membuat kesimpulan bahwa kendaraan dengan baterai untuk tenaga listrik (battery electric vehicle) akan membutuhkan subsidi dan investasi yang besar. Ini tentu akan memberi efek samping bagi ekonomi negara,” ucap Kitani.

Wuling Sudah Siap dengan Mobil Listrik

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X