Saatnya Bus Tak Laik Jalan Hilang dari Jakarta - Kompas.com

Saatnya Bus Tak Laik Jalan Hilang dari Jakarta

Kompas.com - 01/08/2018, 10:42 WIB
Bus metromini jurusan Blok M - Fatmawati - Pondok Labu melompati separator dan melawan arus untuk mendahului bus lainnya di jalan Melawai, Jakarta Selatan, Senin (7/12). Prilaku ugal-ugalan supir bus di jalan tidak hanya membahayakan keselamatan penumpang tetapi juga pengguna jalan lainnya. 

Kompas/Priyombodo (PRI)
07-12-2015PRIYOMBODO Bus metromini jurusan Blok M - Fatmawati - Pondok Labu melompati separator dan melawan arus untuk mendahului bus lainnya di jalan Melawai, Jakarta Selatan, Senin (7/12). Prilaku ugal-ugalan supir bus di jalan tidak hanya membahayakan keselamatan penumpang tetapi juga pengguna jalan lainnya. Kompas/Priyombodo (PRI) 07-12-2015

JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta akan menjadi tuan rumah ajang Asian Games pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Kebijakan sektor lalu lintas merupakan salah satu yang paling diperhatikan oleh jajaran pemerintah, dalam menyambut pesta olahraga terbesar di Asia itu.

Selain menerapkan kebijakan ganjil genap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam waktu dekat juga akan mengeluarkan larangan bagi bus-bus tua Kopaja dan Metromini melintas di jalan protokol. Kebijakan ini direncanakan mulai berlaku dari 15 Agustus hingga 15 September.

Baca juga: Kopaja-Metromini Dilarang Lewat Jalan Protokol Saat Asian Games 2018

Kopaja 502 jurusan Kampung Melayu-Tanah Abang melintang di median jalan Brigjend Katamso, Jakarta Barat, Sabtu (21/6/2014). Akibatnya arah Tanah Abang-Kemanggisan macet total dan sebaliknya.Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Kopaja 502 jurusan Kampung Melayu-Tanah Abang melintang di median jalan Brigjend Katamso, Jakarta Barat, Sabtu (21/6/2014). Akibatnya arah Tanah Abang-Kemanggisan macet total dan sebaliknya.

Keberadaan bus-bus lawas sejenis Kopaja dan Metromini memang dinilai jadi masalah tersendiri di Jakarta. Selain kebanyakan sudah tidak layak jalan, bus-bus ini juga punya kadar gas buang yang tinggi. Belum lagi perilaku pengemudinya yang tidak tertib.

Country Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Yoga Adiwinarto menilai, pelarangan Kopaja dan Metromini melintas di jalan protokol sudah tepat, terutama di rute-rute yang melintasi venue-venue pertandingan. Namun Yoga menilai kebijakan ini seharusnya tak hanya diterapkan saat Asian Games saja.

Menurut Yoga, bus-bus tidak layak jalan sudah seharusnya tak lagi beroperasi di seluruh Jakarta. Apalagi saat ini hampir sebagian besar rute-rute layanan bus tersebut sudah diisi transjakarta yang kondisi bus-bus relatif baik.

"Jadi kalau saya bilang seharusnya sudah saatnya mereka diganti seluruhnya. Bukan hanya di jalan protokol saja," kata Yoga kepada Kompas.com, Senin (30/7/2018).

Baca juga: Di Balik Ugal-ugalan Metromini

 

Kondisi Metromini 53 yang ringsek setelah menghantam portal dan separator Transjakarta di Jalan Otista, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (2/6/2018).Fabian Januarius Kuwado Kondisi Metromini 53 yang ringsek setelah menghantam portal dan separator Transjakarta di Jalan Otista, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (2/6/2018).

Pendapat serupa juga dikemukakan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) Azas Tigor Nainggolan. Menurut Tigor, pelarangan bus-bus tua melintas di jalan protokol pada saat Asian Games saja tidak menyelesaikan masalah, tapi hanya menyembunyikan masalah.

Karena itu, ia menilai sudah sepatutnya Pemprov DKI di rezim saat ini melanjutkan kembali rencana peremajaan yang sudah digaungkan sejak beberapa tahun silam. Menurut Tigor, peremajaan bus kota harus melibatkan peran serta pengusaha bus.

Idealnya, kata Tigor, PT Transjakarta hanya jadi regulator yang menentukan spesifikasi bus yang layak dan boleh bergabung di layanan transjakarta. Spesifikasi ini yang nantinya harus dipenuhi pengusaha bus. Dengan cara ini, penghilangan bus-bus tidak layak jalan tidak akan meninggalkan efek negatif berupa matinya pencarian pengusaha dan sopir bus tersebut.

Baca juga: Imbas Kecelakaan di Rasuna Said, Kopaja dan Metromini Ugal-ugalan Dirazia

"Tapi yang terjadi sekarang Transjakarta beli bus sendiri. Kalau pengusaha mau gabung harus beli busnya di mereka," ujar mantan Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) ini.


Komentar
Close Ads X