Jangan Sembarang Campurkan Zat Aditif ke Oli

Kompas.com - 13/04/2018, 16:02 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|

Jakarta, KOMPAS.com — Zat aditif adalah cairan kimia yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas oli kendaraan. Biasanya, zat ini sudah tercampur di dalam produk oli. Namun, saat ini mulai banyak ditemukan zat aditif yang dijual terpisah.

Mengenai peredaran zat aditif yang dijual terpisah ini, Motul Indonesia tidak menyarankan konsumennya untuk mencampurkan sendiri zat aditif ke oli yang digunakan. Technical and Training Service Engineer Motul Indonesia Isadat Salam menyatakan, mencampurkan zat aditif ke oli membutuhkan penghitungan khusus sehingga tidak boleh dilakukan sembarangan.

Baca juga : Mengenal Bahan Dasar untuk Membuat Oli

"Karena mencampur kimia ke oli bukan seperti bikin teh manis. Jadi penambahan zat aditif ke oli tidak direkomendasikan," kata Salam di Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Dua produk oli yang memiliki kadar kekentalan yang berbeda. Terlihat dari kode SAR yang tertera di kemasan.Kompas.com/Alsadad Rudi Dua produk oli yang memiliki kadar kekentalan yang berbeda. Terlihat dari kode SAR yang tertera di kemasan.

Salam mengatakan, Motul tidak memproduksi zat aditif yang dijual terpisah. Sebab, semua produk oli buatan Motul sudah ada campuran zat tersebut.

Menurut Salam, mencampurkan zat aditif ke oli yang sudah ada cairan tersebut justru bisa merusak kualitas oli. Sebab, belum tentu zat aditif yang digunakan bisa bersenyawa dengan kandungan oli. Dampak yang bisa terjadi adalah terhentinya kinerja mesin alias ngejam.

Baca juga: Jangan Tertipu dengan Pelumas Harga Murah

"Produk Motul sudah ada zat aditifnya sehingga tidak perlu lagi aditif dari luar. Kalau ditambahkan, kemudian motor nantinya bermasalah, pemilik akan bingung mau menyalahkan Motul atau zat aditifnya," pungkas Salam.

Ilustrasi ganti oli atau pelumas mesin mobilhttp://www.jupitergaragesheffield.co.uk Ilustrasi ganti oli atau pelumas mesin mobil

Trainer dari Masyarakat Pelumas Indonesia (Maspi) Juergen Gunawan menjelaskan, zat aditif di industri pelumas dipasok oleh tiga merek besar, masing-masing Lubrizol, Chevron Oronite, dan Infenium. Zat aditif dari ketiganya inilah yang digunakan oleh semua perusahaan pelumas terkemuka, merek apa pun itu.

Menurut Juergen, pasokan dari produsen zat aditif ke perusahaan pelumas biasanya sudah dalam bentuk paket, yang di dalamnya terdiri dari 10 sampai 12 jenis bahan kimia. Bahan-bahan kimia itulah yang kemudian diolah perusahaan pelumas menjadi oli.

"Aditif yang diolah perusahan pelumas di-blanding sesuai standar yang dibuat aditif maker," ujar Juergen kepada Kompas.com, Jumat (13/4/2018).

Karena sudah mengandung 10-12 jenis bahan kimia, Juergen menyebut ada potensi kontra antarzat kimia jika pelumas mendapat lagi tambahan zat aditif.

"Makanya, pemain pelumas diinformasikan oleh aditif maker supaya jangan ditambah-tambahin lagi," ucap Presiden Direktur PT Willbern Tritium Indonesia ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.