Kompas.com - 24/03/2014, 08:53 WIB
|
EditorAris F. Harvenda

Jakarta, KompasOtomotif – Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI), sejak 2011 hingga 2013, populasi sepeda motor baru di Indonesia bertambah 22 juta unit. Menurut Ikatan Motor Indonesia (IMI), dari perspektif ekonomi hal itu merupakan salah satu indikator pertumbuhan industri otomotif, namun dari sudut pandang sosial, ruang gerak masyarakat dalam berlalu-lintas semakin terbatas karena penataan sistem transportasi belum optimal.

"Gesekan" bisa saja terjadi, sebab itu kampanye edukasi keselamatan berkendara selalu digelar untuk menghindari situasi negatif. “Etika dan perilaku berkendara sering menjadi persoalan utama penilaian karakter pengguna kendaraan bermotor. Sayangnya, tidak semua pengguna mengetahui dan memahami hal itu,” ungkap Otte Ruchiyat, Pengurus Pusat IMI Ketua Bidang Wisata, dalam buku panduan “Safety Riding, Safety Riding” IMI.

Dijelaskan, ada 3 moto yang selalu diterangkan dalam setiap acara, yakni “Smart, Skill, & Safety”. Pertama yang harus dilakukan, pengendara sepeda motor harus “Smart”. Selalu berpikir positif sebelum dan selama berkendara. Masalah yang terjadi di jalan bisa ditanggulangi dengan cara sabar, pintar, atau bijaksana, jadi jangan terjebak emosi. Jalan umum berarti milik seluruh pengguna lalu-lintas, karena itu hindari berperilaku arogan, sombong, dan mau menang sendiri.

Poin kedua, “Skill”. Buat masyarakat dengan intensitas berkendara harian perlu mengasah keterampilan dasar biar semakin berpengalaman. Hal yang harus diperhatikan, yakni berkendara efisien, efektif memanfaatkan stamina tubuh, mengoptimalkan kemampuan sepeda motor, dan memahami seluk-beluk kendaraan yang dikemudikan.

Setelah kedua poin di atas, tentu semua dijalankan dengan mengutamakan keselamatan (Safety) berkendara. Setiap pengendara harus melindungi dirinya dengan baik terlebih dahulu, biasakan mengenakan perlengkapan lengkap sebelum memulai perjalanan. Pengendara dihimbau tetap berusaha memperkecil risiko dengan menaati semua peraturan dan lalu-lintas.

“Di kota-kota besar, etika dan perilaku seolah menjadi suatu kumpulan tradisi dan budaya berkendara yang menguji konsistenti legitimasi dan pembenaran atas pelanggaran aturan berkendara yang berlaku. Tidak mengherankan, human error semakin menjadi dasar penyebab terjadinya kecelakaan yang berakibat fatal,” terang Otte.

Teknik
Ada 3 teknik berkendara yang bisa menambah jaminan keselamatan berkendara. Pertama, Safety Driving, artinya mengemudi dengan mengutamakan keselamatan.

Kedua, Defensif Driving, teknik mengemudi ini untuk menghindari kecelakaan yang bisa terjadi akibat variasi faktor eksternal. Teknik ini menuntut keahlian dan pengalaman mengemudikan kendaraan dengan konsentrasi tinggi. Semakin berpengalaman, semakin tinggi ketepatan mengambil keputusan sebelum terjadi kecelakaan.

Sedangkan yang ketiga, Smart Driving. Selain menaikan level keselamatan serta efisiensi, sikap dan perilaku pengemudi yang baik menawarkan kenyamanan buat semua pelaku lalu-lintas. Pengetahuan luas tentang sepeda motor sehingga mampu menyelesaikan berbagai masalah merupakan ciri pengendara pintar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.