Penggunaan Kacamata Google di Mobil Masih Kontroversial

Kompas.com - 22/01/2014, 10:03 WIB
|
EditorZulkifli BJ

Las Vegas, KompasOtomotif — Demam Google Glass mulai menjangkiti "penggemar gadget" dan teknologi. Namun, kini muncul pertanyaan, apakah penggunaannya memberikan nilai positif atau sebaliknya, khusus bagi pengemudi mobil atau pengendara sepeda motor? Apakah kacamata elektronik ini aman digunakan saat mengemudi atau hanya cocok dipakai sebelum dan sesudah berkendara?

Pada pameran elektronik internasional CES di Las Vegas, banyak produsen mobil menampilkan berbagai teknologi informasi yang dintegrasikan dengan Google Glass, khusus bagi pengemudi. Hyundai dan Mercedes-Benz berencana mengintegrasikan Google Glass dengan sistem infotainment di dasbor mulai tahun ini. Harman International juga tengah menyiapkan sistem yang bisa memperingatkan pengemudi kemungkinan terjadinya tabrakan. 

Pendekatan
Untuk mengetahui untung-rugi menggunakan Google Glass, para analis melakukan dua pendekatan. Pertama, dianggap sebagai kacamata yang bisa dihubungkan ke internet dan dinikmati melalui mata kanan pengguna. Selanjutnya, dengan perintah suara dan sentuhan kecil di bingkai kacamata, pengguna bisa melihat peta dan navigasi, mengabadikan foto, mengecek cuaca, dan sebagainya.

Harga Google Glass ini termasuk mahal, 1.500 dollar AS (Rp 17,9 juta). Nantinya diperkirakan turun dan sudah bisa diproduksi secara massal.

Para insinyur di Herman International melihat potensi Google Glass sebagai peranti yang tepat untuk peringatan keselamatan pengemudi atau pengendara saat meluncur di jalan. Mereka akan lebih waspada jika ada peringatan di mata kanan. Di samping itu, untuk melihatnya cukup dengan melirik tanpa harus berpaling dari jalan di depan mobil.

Kontra
Hyundai dan Mercedes-Benz menilai, Google Glass baik digunakan oleh pengemudi mobil sebelum atau sesudah berada di belakang setir. Tahun lalu, petinggi Mercedes menggambarkan peranti ini sebagai sistem navigasi bantuan yang terintegrasi dengan sistem pemetaan di kendaraan.

Dengan ini, pada awal perjalanan, pengemudi bisa mengunduh tujuan mereka dari Google Glass ke sistem navigasi mobil mereka. Setelah sampai di tempat parkir, baru mengenakan Google Glass dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Nah, ketika mereka mau kembali ke mobil, bisa menggunakan Google Glass untuk mengetahui posisi parkir kendaraan.

"Ini contoh transisi, Anda bisa tetap terhubung ketika masih di dalam mobil, mengemudi, dan ketika meninggalkan mobil. Kami tidak ingin orang menggunakan Google Glass ketika mengemudi," jelas Johan Jungwirth, Kepala Riset dan Pengembangan Mercedes-Benz Amerika Utara, dilansir Autonews, Selasa (21/1/2014).

Hyundai juga berpendapat, Google Glass bisa digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pengingat perawatan, menyalakan mobil, mengunci pintu mobil, menemukan kendaraan di tempat parkir, hingga mengunduh lokasi tujuan berkendara.

"Kami terus mengembangkan cara baru untuk menggunakan teknologi, meningkatkan pengalaman kepemilikan konsumen kami. Produk ini adalah cara yang baik untuk memperkaya pengalaman di luar kendaraan," beber Barry Ratzlaff, Direktur Eksekutif Hyundai Motor AS.

Lantas, bagaimana menurut Anda? Apakah kacamata ini aman digunakan untuk mengemudi atau sebaliknya?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.