Salin Artikel

Kecelakaan Maut Bus Pariwisata Terjadi Lagi, Ini Komentar KNKT

Dilansir dari laman NTMC Polri, Sabtu (10/9/2022), Kapolres Wonosobo AKBP Eko Novan menyampaikan, kejadian berawal saat bus pariwisata melaju dari arah Parakan Temanggung menuju Wonosobo.

Menjelang lokasi kejadian ketika melewati jalan beraspal lurus dengan kontur menurun, bus mengalami gagal fungsi pengereman, sehingga laju bus tidak terkendali hingga akhirnya membentur kendaraan Mitsubishi L300 yang melaju searah di depannya sehingga kendaraan terseret sejauh 100 meter.

Setelah itu terjadi benturan kembali antara kendaraan L300 dengan Toyota Kijang Innova dan Nissan Livina. Akibat kejadian tersebut, enam korban dipastikan meninggal dunia, dan dua lainnya mengalami luka berat dan luka ringan.

AKBP Eko menyebutkan, ada dua dugaan sementara kecelakaan itu bisa terjadi. Dugaan pertama karena faktor sopir mengantuk, kemudian dugaan kedua dikarenakan rem blong. Sementara, sopir mengakui kendaraannya mengalami rem blong. Namun, tim gabungan tetap melakukan analisis secara mendalam terkait penyebab kecelakaan.

“Namun, dugaan itu masih kita lakukan penyelidikan dan analisis lebih lanjut,” ucapnya.

Kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar sudah kerap kali terjadi, bahkan tak jarang yang menimbulkan korban jiwa.

Ketua Sub Komite Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan, kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar selama ini didominasi kasus pengemudi kehilangan kendali atas kendaraan dan kasus kegagalan pengereman.

“Kedua pola kasus dimaksud dipicu oleh human error, baik itu terkait lelah, sakit ataupun unskill (sopir tidak memiliki kemampuan),” ucap Wildan saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (10/9/2022).

Wildan melanjutkan, hal ini merupakan suatu kasus yang penyebabnya by design (dengan sengaja). Pertama belum ada system yang efektif mampu mengatur dan mengendalikan terkait waktu kerja pengemudi, sehingga kasus pengemudi lelah, ngantuk, tidur sambil mengemudi saat ini sangat banyak terjadi.

“Kedua, pengemudi kita itu tidak terdidik. Sangat jarang menemukan pengemudi yang memahami sistem rem kendaraan dan prosedur penggunaan yang baik dan benar, karena tidak ada sekolah pengemudi,” kata dia.

Menurut Wildan, hal ini merupakan masalah yang sangat krusial dan harus memikirkan bagaimana caranya mendidik para pengemudi kendaraan besar (bus/truk) sebagaimana layaknya pilot, nahkoda maupun masinis.

“Karena mengemudi bus dan truk serta mengemudi kendaraan ototronic harus didukung dengan kompetensi yang memadai dan spesifik. Prosedur penggunaan rem yang baik dan benar, serta bagaimana menciptakan mekanisme pengawasan waktu kerja yang efektif menggunakan teknologi dan tidak secara manual (oleh manusia),” katanya.

https://otomotif.kompas.com/read/2022/09/10/134200015/kecelakaan-maut-bus-pariwisata-terjadi-lagi-ini-komentar-knkt

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.