Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Uji BMW X3 di Jalur Berkelok-kelok Menuju Trenggalek

Setelah menikmati dua cangkir kopi berbeda jenis yang fresh dan disajikan langsung Mas Pepeng, pemilik kedai yang hangat penuh cerita, Trenggalek, Jawa Timur jadi tujuan berikutnya.

Jarak sekitar 255 KM ditunjukkan oleh maps di dashboard setelah setting tujuan dari titik berangkat. Menyenangkan melakukan perjalanan dengan kepastian tujuan dan arahan yang tepat seperti ditunjukkan BMW Live Cockpit Professional, melalui layar monitor 12.3 inci touch display di dashboard X3.

Karena tidak tergesa-gesa dan hendak menikmati perjalanan seorang diri, saya set ecodrive sejak berangkat. Melintasi ringroad menuju Jalan Solo, X3 melaju dengan tenang.

Kepadatan kendaraan khususnya menjelang lampu pengatur lalu lintas membuat sensor berbunyi sebagai tanda dekatnya obyek ke body X3.

Sebagai pengingat, sensor ini sangat membantu untuk kewaspadaan. Di awal-awal, sensor yang kerap berbunyi di tengah kepadatan ini terasa menganggu. Namun, karena sangat membantu, sensor ini mengasyikkan juga sebagai pengingat agar selalu menjaga jarak aman.

Jika merasa terganggu meskipun kondisinya aman, dengan satu klik jari-jari tangan kiri, sensor yang mengingatkan dalam bentuk suara ini bisa dibisukan.

Meskipun jalanan padat, kebisingan suara kendaraan saat berhenti di lampu pengatur lalu lintas nyaris tidak terdengar. Hawa panas di luar lantaran panas terik juga tidak menjalar ke dalam ruang kemudi lantaran pengatur suhu udara yang bisa diandalkan.

Dengan kepastian tujuan dan kenyamanan berkendaraan, jarak 255 KM sama sekali tidak mengkhawatirkan. BMW X3 sDrive20i melaju sempurna sejak saat masuk gerbang tol Kartasura.

Jalan yang halus, lurus dan sedikit menanjak di beberapa ruasnya menjadi kesempatan menguji performa mesin. Dengan kekuatan 184 hp yang berasal dari mesin 4 silinder, berkapasitas 1.998cc, X3 bisa dipacu dengan sangat mudah mencapai kecepatan maksimal yang diinginkan.

Setelan mode ecodrive membuat X3 melaju dengan tenang, penuh keyakinan. Karena halusnya permukaan jalan, tidak terasa saat kecepatan menunjukkan angka 175 kpj.

Meskipun tenaga masih penuh dan memungkinkan, kecepatan tidak saya tambah tetapi saya kurangi. Saya hendak menikmati pejalanan. Hamparan sawah yang menguning siap panen di sepanjang ruas tol tampak seperti ladang gadum di negara empat musim.

Keluar di Gerbang Tol Madiun, pejalanan menuju Trenggalek melewati Ponorogo akan menyusuri jalan-jalan sempit berkelok-kelok. Kondisinya berbeda sama sekali dengan ruas tol dan Jalan Solo yang sebelumnya saya lintasi.

Sore yang beranjak teduh namun tetap cerah membuat saya membuka panoramic glass roof. Sekali tekan, atap lantas terbuka. Rona cayaha sore masuk ke kabin dengan sempurna.

Sejumlah ruas jalan berlubang yang tidak bisa dihindari menjadi kesempatan uji suspensi yang lentur. Getaran terasa tetapi sangat minimal. Juga saat melintasi rel kereta api di ruas jalan setelah Pabrik Kereta Api Inka. 

Keyakinan akan suspensi yang lentur dan minim getaran ini teruji saat sebelum masuk Gerbang Tol Kartasura dan melintasi "Markas Kopassus Kandang Menjangan". Polisi tidur berbaris-baris dan tinggi di depan markas itu dilintasi dengan minim kejutan karena suspensi yang terasa lentur.

Di sisa perjalanan dari Ponorogo menuju Trenggalek, senja turun. Langit jingga yang menjadi latar bukit-bukit menjadi pemandangan istimewa. Luasnya pandangan ke depan dan panoramic glass roof terasa faedahnya.

Jalan menanjak dan menurun penuh kelokan dengan mudah ditaklukkan. Lampu jalan yang terang dan lampu jauh yang mengindikasikan marka jalan sangat membantu perjalanan memasuki Trenggalek menjelang malam.

Gerimis yang turun di tengah-tengah perbukitan yang rimbun dengan vegatasi alami tidak terasa mencemaskan.

Wiper otomatis tahu kapan harus menyapu gerimis dan mendadak bersih. Saat gerimis menjadi hujan di beberapa ruas jalan, wiper tahu bekerja maskimal tanpa kita kendalikan.

Dengan kerja-kerja otomatis yang optimal semacam wiper ini, fokus pada ruas jalan tidak terganggu. Jari-jari tangan bisa dioperasikan untuk mencari informasi aktual melalui radio lokal yang otomatis ada di list dan direkomendasikan di layar.

Pindah dari satu stasiun radio ke stasiun radio lokal lainnya sangat dimudahkan. Setelah semua terkendali, telinga terpaut ke stasiun radio lokal yang sedang menyiarkan pengajian menjelang shalat Maghrib.

Seorang Kiai Nahdlatul Ulama dengan jenakanya menjelaskan soal pentingnya saling bekerja sama antarumat beragama di Indonesia yang majemuk dan kaya ragamnya. Diselingi canda dan tawa yang mengena, pengajian yang universal pesannya berakhir saat Maghrib tiba.

Selepas Maghrib, Trenggalek sudah ada di depan mata. Tanpa kelelahan, perjalanan 255KM dengan X3 saya tempuh sekitar 4.5 jam dengan gembira.

Meeting untuk acara Sabtu (6/3/2021) kemudian saya ikuti pukul 19.30 setelah sebelumnya menyantap sate khas Trenggalek.

https://otomotif.kompas.com/read/2021/03/13/110700715/uji-bmw-x3-di-jalur-berkelok-kelok-menuju-trenggalek

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke