Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Akhir Kisah Industri Otomotif di Australia

Canberra, KompasOtomotif – Era industri otomotif Australia bakal menghembuskan napas terakhir, tepatnya ketika General Motors (GM) berhenti produksi pada 20 Oktober 2017. Produsen asal Amerika Serikat ini menjadi penutup, menyusul Toyota yang sudah lebih dulu menghentikan produksi pada 3 Oktober 2017.

Kondisi ini tidak terjadi mendadak, benih-benih kematiannya sudah tertanam sejak 1990-an, saat Australia secara aktif mengejar kesepakatan perdagangan bebas, demi meningkatkan ekspor di sektor pertanian.

Sebagai salah satu negara dengan sektor pertanian top di dunia, strategi ini masuk akal. Namun, hal itu membawa konsekuensi buruk bagi industri manufaktur mobil.

Jualan mobil baru di Australia sendiri menyentuh angka 1,18 juta unit periode 2016, membuat mereka berada di posisi ke-16 dunia. Setidaknya sekitar 90 persen kendaraan diimpor dari Jepang, Thailand, Korea Selatan.

Masa-masa Penghujung

Pada awal-awal bulan ini, untuk terakhir kalinya Toyota Camry buatan Australia meluncur dari fasilitas di Toyota Altona. Kendaraan dengan status edisi spesial ini berbalut tinta bendera Australia. Produsen berdarah Jepang tersebut mulai membuat mobil di sana sejak 1963.

Volume output tahunannya mencapai 149.000 unit di peak year 2007, tapi angka tersebut terus menurun sampai sekitar 90.000 dalam beberapa tahun terakhir. Buntut dari berhenti Toyota, pekerjaan yang hilang mencapai 2.500 orang, atau dua pertiga dari angkatan kerja Toyota di Australia. Sementara anak perusahaannya akan direorganisasi dan difungsikan untuk jualan saja.

Ford Motor asal Amerika jadi merek yang pertama hadir di Australia, dan mulai beroperasi pada 1925. Kemudian menyusul Nissan Motor dan Mitsubishi Motors Jepang yang juga coba peruntungan sama, hingga total ada lima produsen mobil di awal 1990-an.

Tapi satu per satu pabrikan keluar dari sana, seiring dengan serangkaian perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) yang ditandatangani oleh pemerintah Australia, dan semakin memperkecil alasan untuk memproduksi mobil di Australia, dari kacamata ekonomi.

Jadi Korban Perdagangan Bebas

Langkah Australia mengejar kesepakatan FTA sejak 1980-an, dimulai dari bergabungnya Inggris dengan Uni Eropa pada 1973, dan fokus perdagangannya beralih ke blok regional. Ini memaksa Australia untuk menumbuhkan pasar ekspor baru untuk produk pertanian.

Tentu saja, demi bisa mendapat akses pasar luar negeri, Australia wajib membuka pasar domestik. Pilihan merombak kebijakan yang melindungi industri otomotif kemudian dipilih, mulai dari tarif impor mobil yang turun dari 57,5 persen jadi 45 persen di 1988, dan kembali diperkecil menjadi 37,5 persen pada 1991.

Tak berhenti sampai situ, mereka juga memangkas bea masuk sampai 15 persen di 2000. Kebijakan pemerintah tersebut, cukup jadi alasan kuat bagi Nissan, untuk mengakhiri aktivitas produksinya di sana pada 1992.

Situasi semakin memburuk, ketika pemerintah Australia mulai menegoisiasi FTA bilateral, yang mulai diumumkan pada 1997. Sejak saat itu, mereka telah menandatangani 10 kesepakatan.

Seperti FTA dengan Thailand yang berlaku sejak 2005, memukul industri mobil Australia sangat keras. Impor mobil dari Negeri Gajah Putih melonjak, yang akhirnya membuat Mitsubishi memutuskan hengkang di 2008.

Kondisi ini membuat Dave Smith dari Serikat Pekerja Manufaktur Australia angkat bicara. Dirinya mengatakan, bukan hanya soal isu hilangnya pekerjaan, tapi yang penting lainnya adalah keahlian dan pengalaman manufaktur yang telah terakumulasi pada industri otomotif akan kandas, bersamaan dengan hengkagnya aktivitas produksi mobil di Australia.

https://otomotif.kompas.com/read/2017/10/16/090200915/akhir-kisah-industri-otomotif-di-australia

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke