Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Kasus Oknum TNI Cekcok, Begini Cara Ingatkan Pengemudi agar Lebih Sopan

Kompas.com - 07/03/2023, 06:32 WIB
Dicky Aditya Wijaya,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi arogan pengendara di jalan sering terjadi, kedua belah pihak saling terpancing membalas tindakan yang dinilai membahayakan keselamatan. Kejadian itu akhirnya merugikan dan mencemarkan nama baik masing-masing. 

Contoh kasus cekcok, yaitu anggota TNI di Semarang, beberapa waktu lalu. Kejadian nyaris baku hantam hanya karena masalah tidak terima diklakson.

Peristiwa itu membuktikan masih banyak pengemudi yang labil mengontrol emosi. Padahal, berkendara kendaraan apa pun membutuhkan pengendalian diri. Meski akhirnya keduanya sudah berdamai secara kekeluargaan.

Bahkan, sebagian pihak menilai porsinya berimbang dengan teknik mengemudi. Kondisi jalan yang padat dinilai faktor utama. Lalu lintas macet, budaya antre, dan etika berkendara hilang karena tuntutan aktivitas. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dash Cam Owners Indonesia (@dashcam_owners_indonesia)

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana yang mengatakan, percuma memiliki kemampuan berkendara di atas rata-rata tetapi tidak mempunyai sikap saling menghargai antar-pengguna.

"Egois dan berharap menang sendiri, seperti sudah tertanam dalam pikiran dan hati banyak pengemudi. Pokoknya yang dipikirkan jalan itu punya kita. Masa bodoh, padahal itu arogan dan tidak beretika. Sepatutnya, dalam kondisi tertentu mengalah. Bila merasa mendapat ancaman, klakson panjang, buat peringatan. Komunikasi dulu, jangan mudah terprovokasi," ucap Sony. 

Baca juga: Cekcok di Jalan, Bolehkah Paksa Mobil Lain Berhenti di Jalan Raya?


Kejadian-kejadian tak terduga seperti jalur tiba-tiba dipotong, sebenarnya bila disikapi dengan bijak tidak sampai menimbulkan perselisihan. Sony menyarankan, menghadapi konflik di jalan yang penting adalah tenang dan jika perlu sebaiknya mengalah. 

Tak hanya merugikan diri sendiri, perdebatan, atau tindakan fisik yang terjadi, memperburuk keadaan. Awalnya masalah ringan, namun lama-lama menyeret kedua belah pihak ke ranah hukum. 

Menurut Sony, memperingatkan pengemudi lain tidak dipermasalahkan. Hanya saja, sebaiknya memahami tindakan balasan pengendara lainnya. Aksi cekcok atau kekerasan bermula dari salah paham dan kejadian tersebut sangat membahayakan pengguna jalan yang melintas. 

"Mau memberikan peringatan lihat-lihat kondisi. Jika salah satu terprovokasi, mending mengalah. Cari jalan keluar. Jangan berhenti di jalan dan dilihat banyak orang. Yang rugi siapa? Kita sendiri, jika ramai dan diberitakan di mana-mana malu, dan mencemarkan nama baik," kata Sony. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Komentar
klo menurut ichsanudin, banyaknya pngendara yg hilang adabnya dijalan karna kendaraannya hasil kredit ( riba) atau korupsi. jadi berimbas pada prilaku ( adab).


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
[FULL] Kapolri soal Pantauan Arus Mudik Lebaran 2025: Fatalitas dan Keamanan Lebih Baik dari Tahun
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau