Sabtu, 1 November 2014

Otomotif


Arti Ciuman Perempuan Sabu

Penulis: | Selasa, 20 Mei 2008 | 11:17 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : -

Oleh Wartawan Pos Kupang, Agus Sape

DERMAGA
Seba di Kecamatan Sabu Barat, di siang hari, nyaris serba biru. Langit biru tanpa awan. Laut biru tanpa gelombang. Dalam nuansa demikian, KRI Weling 822 milik Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII Kupang merapat ke dermaga. Warnanya pun biru.

Tak lama berselang, trompet ala TNI Angkatan Laut melengking. Komandan Lantamal VII, Brigjen TNI (Mar) Syaiful Anwar, keluar dari dalam tubuh kapal, berdiri di buritan memegang tongkat komandan. Didampingi sejumlah pejabat Lantamal VII, mereka semua berpakaian biru khas TNI Angkatan Laut.

Di dermaga tampak sejumlah perempuan dan laki-laki Sabu berdiri membanjar. Mereka memberikan nuansa lain dengan mengenakan sarung tenun khas Sabu berwarna coklat tua. Ketika Danlantamal menuruni tangga kapal ke dermaga, mereka pun mendekat dan menyapa diiringi senyuman. Tidak ada yang seram dan menakutkan. Tak ada yang memegang senjata. Semuanya terasa damai dan tenang.

Seorang lelaki mendekat, mengikatkan sehelai sarung tenun Sabu di pinggang dan destar di kepala Danlantamal. Penampilan Danlantamal berubah seketika, tampak seperti lelaki Sabu.

Perempuan-perempuan tadi bergiliran menjabat tangannya disertai ciuman khas Sabu, hidung menyentuh hidung. Siang itu, Danlantamal tidak bedanya dengan seorang bintang film yang dinanti-nantikan penggemarnya, membiarkan hidungnya disentuh-sentuh.

Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu, sempat menyampaikan maaf kepada Danlantamal kalau tidak terbiasa dengan penyambutan seperti itu. Menurut dia, berciuman hidung merupakan budaya orang Sabu yang biasanya diberikan kepada orang-orang istimewa. Dengan ciuman mereka mau menyatakan bahwa mereka menerima seseorang dengan hati terbuka.

Dalam keseharian masyarakat Sabu, ciuman hidung menjadi tanda perdamaian. Konflik sehebat apa pun akan berakhir dengan sendirinya setelah berciuman hidung.

Kedatangan rombongan Danlantamal siang itu benar-benar menjadi perhatian. Jajaran Muspika Sabu Barat tampak hadir lengkap, termasuk Kepala Posal Seba, Letda Laut (Pelaut) Harry Fitrianto. Di ujung barisan penyambut tampak sejumlah siswa SMK Perikanan Seba. Mereka juga berpakaian serba biru, sebiru pakaian TNI Angkatan Laut.

Dari dermaga rombongan Danlantamal diantar dengan iring- iringan puluhan sepeda motor dan mobil menuju Posal yang letaknya dua tiga kilometer ke arah barat dermaga Seba. Para pedagang di pasar Seba dan para pelajar yang baru keluar sekolah berhenti sejenak menyaksikan iringan-iringan itu.

Mentari yang menyengat Pulau Sabu siang itu terasa sejuk.
Dalam sambutannya di Posal Sabu, Danlantamal yang tetap dalam balutan sarung Sabu menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Sabu atas sambutan meriah.

"Ini merupakan pengalaman tak terlupakan," kata Danlantamal sumringah.

Menurut Syaiful, kedatangannya ke Sabu merupakan yang pertama sejak menjadi Danlantamal VII tiga bulan lalu. Sebagai pimpinan tertinggi TNI AL yang meliputi wilayah NTT, NTB dan Maluku Tenggara, dia ingin bersilaturahmi dengan masyarakat Sabu, melihat dan merasakan langsung keadaan mereka. Dia menegaskan bahwa Pulau Sabu merupakan bagian tidak terpisahkan dari NKRI.

Dalam kaitan dengan tugas pengamanan pulau-pulau terluar, kata Syaiful, TNI AL memberi perhatian khusus pada pulau ini. Di selatan pulau ini terdapat Pulau Dana sebagai pulau terluar yang berbatasan dengan Australia.

Selain Pulau Dana, NTT juga memiliki beberapa pulau kecil yang teridentifikasi sebagai pulau terluar. Di Rote Ndao ada Pulau Ndana dan di Sumba ada Pulau Selura yang berbatasan g dengan Australia. Di Kupang ada Pulau Batek yang berbatasan dengan Timor Leste.

Identifikasi dan penetapan pulau-pulau terluar, menurut Syaiful, sangat penting sebagai titik dasar (base point) pengukuran laut teritorial Indonesia. Menurut UU No 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), perairan Indonesia meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 mil diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. Negara lain tidak diperkenankan melakukan aktivitas ekonomi di kawasan ini.

Selama beberapa periode pemerintah Indonesia hampir mengabaikan pulau-pulau terluar dan tak berpenghuni. Setelah tahun 2006 Mahkamah Internasional (International Court of Justice) memutuskan bahwa Malaysia memiliki kedaulatan atas Pulau Sipadan-Ligitan, baru mata pemerintah Indonesia terbuka. Perlahan-lahan pulau-pulau kecil dan terluar diidentifikasi, termasuk di wilayah NTT. Bahkan Pulau Mangudu di selatan Sumba sempat dikuasai Mr. David, seorang warga negara Australia.

Syaiful mengajak masyarakat NTT, terutama masyarakat di sekitar pulau-pulau terluar, untuk bekerja sama dengan TNI AL mengawasi pulau-pulau tersebut. "Saya titipkan pulau terluar kepada masyarakat Sabu. Kalau ada info yang kurang mengenakkan, tolong segera disampaikan kepada kami," pinta Syaiful.

TNI AL sendiri terus membenahi kapasitasnya. Secara bertahap Sional Rote, Posal Kalabahi dan Posal Waingapu akan ditingkatkan menjadi Lanal.

Dalam kunjungan ke Waingapu, Sumba Timur, Rabu lalu, Pemkab Sumba Timur melalui Asisten I Samuel Peku Limu menyatakan siap membantu tanah untuk pembangunan Lanal. Bahkan Wakil Ketua DPRD Sumba Timur, Drs. Lukas Kaborang turut mendampingi rombongan Danlantamal meninjau lokasi.
Menurut Danlantamal, untuk pembangunan Lanal Waingapu TNI AL sudah memiliki tanah bersertifikat seluas 5 ha lebih, lokasi yang sekarang menjadi Posal Waingapu. Namun, karena Lanal nantinya harus dilengkapi dengan dermaga, rumah sakit, perumahan, sekolah dan tempat ibadah, maka tanah yang sekarang harus ditambah lagi.

TNI AL juga akan meningkatkan jumlah kapal. Menurut Syaiful, tiga Lanal baru akan dilengkapi kapal-kapal patroli. Begitu ada gangguan keamanan di laut, kapal-kapal ini akan langsung digunakan untuk pengamanan. "Dengan kehadiran kita di situ menunjukkan eksistensi NKRI di wilayah itu. Ini unsur yang sangat penting," tegas Syaiful


Editor :