Kompas.com - 06/11/2021, 15:22 WIB
Kemacetan sepanjang 8 kilometer pada H-7 lebaran terjadi di gerbang pintu keluar Tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2015) meski delapan dari sembilan pintu difungsikan untuk arus keluar kendaraan dari Jakarta menuju Palimanan. Kemacetan parah berpotensi terjadi di gerbang tol ini pada puncak arus mudik lebaran. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO KRISTIANTO PURNOMOKemacetan sepanjang 8 kilometer pada H-7 lebaran terjadi di gerbang pintu keluar Tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2015) meski delapan dari sembilan pintu difungsikan untuk arus keluar kendaraan dari Jakarta menuju Palimanan. Kemacetan parah berpotensi terjadi di gerbang tol ini pada puncak arus mudik lebaran. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan transportasi umum untuk aktivitas sehari-hari masih menjadi aspek yang patut diperhatikan. Pasalnya, sampai saat ini masyarakat di Tanah Air masih ragu menggunakannya.

Hal tersebut kemudian menjadi alasan mengapa jalanan Ibu Kota kerap padat dan macet meski dalam masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan ada ganjil genap.

"Secara teori, lalu lintas di DKI harusnya bisa lebih lengang, terlebih ketika perkantoran belum 100 persen," kata Direktur Lalu Lintas Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Sigit Irfansyah, Jumat (5/11/2021).

Baca juga: Lakukan Ini jika Mengalami Salah Sasaran Tilang Elektronik

Wajah baru kawasan Stasiun Tebet, Jakarta setelah ditata ulang, Kamis (14/10/2021). Penataan kawasan Stasiun Tebet terintegrasi dengan mode transportasi di Jabodetabek untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses transportasi umum.KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Wajah baru kawasan Stasiun Tebet, Jakarta setelah ditata ulang, Kamis (14/10/2021). Penataan kawasan Stasiun Tebet terintegrasi dengan mode transportasi di Jabodetabek untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses transportasi umum.

Lebih jauh, kata dia, asumsi itu diambil menurut jumlah data penumpang transportasi umum yang masih merosot selama pandemi Covid-19.

Sebelum pandemi Covid-19, katanya, KRL bisa mengangkut penumpang hampir dua juta orang setiap harinya. Bahkan, Transjakarta, pernah hampir mencapai satu juta orang dalam sehari.

"Sekarang berapa? belum pulih, belum ke indeks 1,2 juta bahkan. Jadi dari kapasitas masih dibatasi, cuman 70 persenan," tuturnya.

Adapun selama penerapan ganjil genap, peralihan ke transportasi umum pun belum maksimal. Sebab, masyarakat lebih memilih menggunakan sepeda motor untuk aktivitas hariannya.

Sementara itu, Advokat Publik dan Praktisi Hukum Perlindungan Konsumen David Tobing, menyebut, ada pemikiran yang muncul pada para konsumen menyoal transportasi massal.

Menurut dia, para konsumen jasa transportasi umum dan lainnya, punya hak soal keselamatan, kenyamanan dan keamanan.

Baca juga: Tertangkap Pakai Pelat Nomor Palsu Bisa Dipenjara 6 Tahun

Halte Senen TransjakartaDok Transjakarta Halte Senen Transjakarta

"Gage ini apa dampaknya kemungkinan mengurangi kemacetan atau malah menimbulkan permasalahan baru?" jelas David.

Dalam kurun waktu 1-3 November 2021, dirinya juga mengaku membuat survei daring untuk mengetahui pola dan perilaku konsumen transportasi. Menurut dia, dari 101 responden yang 60,4 persennya sarjana, mengaku setuju adanya ganjil genap.

"Tapi mereka ingin ada alternatif yang bisa melewati gage itu bertambah, contohnya taksi daring," kata dia.

Dalam survei itu pula, katanya, banyak masyarakat yang masih khawatir terhadap transportasi umum seperti KRL, Transjakarta, angkot hingga Jaklingko. Utamanya, karena kekhawatiran terkontaminasi virus.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.