Mitos atau Fakta, Jalan Beton Bikin Ban Cepat Habis?

Kompas.com - 26/01/2020, 12:32 WIB
Pengerjaan proyek jalan beton di Jalan Mayjend DI Panjaitan, Jakarta Timur, Minggu (3/6/2012). Jalan dibeton karena konstruksi jalan lama dari aspal mudah rusak akibat beban berat kendaraan yang melintas. KOMPAS/IWAN SETIYAWANPengerjaan proyek jalan beton di Jalan Mayjend DI Panjaitan, Jakarta Timur, Minggu (3/6/2012). Jalan dibeton karena konstruksi jalan lama dari aspal mudah rusak akibat beban berat kendaraan yang melintas.
Penulis Ari Purnomo
|

JAKARTA, KOMPAS.com- Saat berkendara kadang melintas di jalanan yang terbuat dari beton. Kondisi jalan keras membuat tingkat kebisingan jelas lebih tinggi dibandingkan berlapis dari aspal.

Selain itu, saat melintasi jalan yang terbuat dari beton tingkat visibilitas tidak sebaik saat melintas di jalan aspal. Hal ini disebabkan karena warna beton tidak gelap sehingga marka tidak terlihat lebih jelas.

Kemudian untuk traksi ban kurang karena ban tidak mendapatkan grip yang baik. Sehingga, saat melintas di jalan beton pengemudi diminta lebih berhati-hati.

Atas berbagai hal tersebut, kemudian memunculkan anggapan bahwa jalan yang terbuat dari beton dapat membuat ban lebih cepat habis.

Menanggapi anggapan tersebut On Vehicle Test PT Gajah Tunggal Tbk, Zulpata Zainal memberikan penjelasan.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Ban Mobil Harus Istirahat saat Perjalanan Jauh?

Menurutnya, anggapan tersebut tidak begitu saja benar, mengingat saat membuat ban tentunya pabrikan sudah memperhitungkan berbagai hal. Salah satunya ketika melintasi jalanan yang terbuat dari beton.

Ilustrasi pecah ban: Kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi, Minggu (15/9/2019), karena mobil mengalami pecah ban.Shutterstock Ilustrasi pecah ban: Kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi, Minggu (15/9/2019), karena mobil mengalami pecah ban.

“Tidak seekstrim itu, dibanding permukaan aspal halus pasti ada bedanya. Tapi tidak signifikan sekali, hingga pengendara jadi parno dengan jalanan beton,” ujar Zulpata saat dihubungi Kompas.com belum lama ini.

Zulpata menambahkan, segala kemungkinan yang akan terjadi pada ban sudah diprediksi sebelumnya. Salah satunya dengan adanya studi yang dilakukan oleh pabrikan ban.

“Sudah diprediksi, sudah dilakukan study oleh pabrikan ban untuk mensikapi permukaan beton, dengan dilakukan tes jalan beribu-ribu kilometer,” ucapnya.

Menurutnya, untuk masalah umur maupun keausan ban tidak serta merta ditentukan oleh jenis jalan yang dilintasinya.

Baca juga: Dikagumi Pecinta VW di Jerman, Ini Prestasi Yumos Garage

Tetapi juga dari tekanan udara pada ban, serta kecepatan dan muatan yang dibawa oleh kendaraan.

“Untuk umur ban, keausan ban ditentukan juga oleh tekanan angin (untuk itu rekomendasi dari pabrikan kendaraan harus diikuti ), kecepatan, muatan , gaya nyetir harus disesuaikan juga,” katanya.

Ilustrasi pecah bantsikot.com Ilustrasi pecah ban

Sehingga, jika ada anggapan bahwa jalan yang terbuat dari beton menurutnya tidak begitu berpengaruh selama beberapa hal di atas diperhatikan.

“Padahal sudah kami sikapi dari pabrikan ban, tidak langsung drop seperti itu, yang penting jangan lupa saran di atas dan rotasi pada ban,” ucap Zulpata.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X