Bahaya Laten Berkendara di Kabut Asap Karhutla

Kompas.com - 18/09/2019, 12:32 WIB
Warga bersepeda menggunakan masker pelindung pernapasan ketika melintas di Jalan Ahmad Yani yang terpapar kabut asap di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (15/9/2019). Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Kalsel mengakibatkan Kota Banjarmasin terpapar kabut asap dengan aroma yang menyengat dan bertambah pekat dalam beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA SWarga bersepeda menggunakan masker pelindung pernapasan ketika melintas di Jalan Ahmad Yani yang terpapar kabut asap di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (15/9/2019). Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Kalsel mengakibatkan Kota Banjarmasin terpapar kabut asap dengan aroma yang menyengat dan bertambah pekat dalam beberapa hari terakhir.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa wilayah di Pulau Sumatera dan Kalimantan dilanda kabut asap akibat bencana Kebakaran Hutan dan Lahan ( Karhutla). Kondisi ini pun berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk para pengendara bermotor.

Salah satunya yang paling parah adalah berkurangnya jarak pandang saat berkendara. Ini berlaku bukan hanya untuk untuk mobil, tapi juga para biker yang mengendarakan sepeda motor.

Penggiat safety riding sekaligus pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, meminta agar para pengendara lebih barhati-hati ketika membawa kendaraan di kawasan kabut asap.

Baca juga: Benarkah Jalan Beton Bikin Ban Gampang Aus?

Sejumlah kendaraan bermotor melintas di Fly Over jalan Ahmad Yani yang terpapar kabut asap di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (15/9/2019).Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Kalsel mengakibatkan Kota Banjarmasin terpapar kabut asap dengan aroma yang menyengat dan bertambah pekat dalam beberapa hari terakhir.ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S Sejumlah kendaraan bermotor melintas di Fly Over jalan Ahmad Yani yang terpapar kabut asap di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (15/9/2019).Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Kalsel mengakibatkan Kota Banjarmasin terpapar kabut asap dengan aroma yang menyengat dan bertambah pekat dalam beberapa hari terakhir.

"Faktor pertama jelas menyerang visibilitas yang membuat jarak pandak saat membawa motor atau mobil menjadi lebih pendek. Pengendara tak bisa melihat jauh ke sepan seperti pada umumnya," ujar Jusri kepada Kompas.com, Rabu (18/9/2019).

Jusri menyarankan, bagi pengemudi kendaraan bermotor untuk memikirkan atau merencanakan kembali perjalanan ketika sedang dihadapi kabut asap.

Bila memang keperluannya tidak darurat, sebisa mungkin tidak usah keluar apalagi sampai membawa kendaraan bermotor.

Tapi bila memang mendesak, di sarankan agar pengendara memilih waktu saat pagi hari. Kondisi ini lantaran intensitas asap tak terlalu tinggi saat pagi hari, berbeda dengan siang hari.

Baca juga: Kecelakaan Tol Jagorawi, Pelajaran dari Fatalnya Pecah Ban Mobil

"Tingkat kelembapan udara masih ada di pagi hari sehingga mungkin asap akan berkurang, tidak terlalu pekat seperti siang hari. Kalau sore dan malam akan lebih parah, karena sudah gelap, tertutup asap juga, jadi jangan nekat karena minim sekali visibilitasnya," ucap Jusri.

Pengendara kendaraan bermotor menggunakan masker pelindung pernafasan ketika melintas di Jalan Soekarno Hatta, Pekanbaru, Riau, Sabtu (7/9/2019). Hal itu dilakukan untuk meminimalisir dampak asap akibat karhutla.ANTARA FOTO/RONY MUHARRMAN Pengendara kendaraan bermotor menggunakan masker pelindung pernafasan ketika melintas di Jalan Soekarno Hatta, Pekanbaru, Riau, Sabtu (7/9/2019). Hal itu dilakukan untuk meminimalisir dampak asap akibat karhutla.

Baca juga: Ini Efek Buruk Kabut Asap Karhutla buat Sirkulasi Udara Kabin Mobil

Dampak dari jarak pandang yang tak maksimal menurut Jusri bisa sangat fatal. Mulai dari membahayakan diri sendiri sampai membahayakan juga bagi orang sekitar.

Karena itu, pastikan penerangan kendaraan berkerja maksimal, bagi pengendara mobil disarankan untuk tidak membuka kaca atau menyerap udara dari luar.

Sebisa mungkin menggunakan udara di area kabin saja, namun tetap menggunakan masker penutup.

"Untuk motor sebenarnya berbahaya, jadi tidak di sarankan. Mobil pun ketika berkendara harus tetap masker untuk mencegah adanya kebocoran.

Paling bahaya dari kabut asap kebakaran hutan itu berdampak pada penyakit saluran pernapasan, ini harus diperhatikan," kata Jusri.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X