Perluasan Ganjil Genap Dinilai Kurang Efektif untuk Jangka Panjang

Kompas.com - 11/09/2019, 07:02 WIB
Aiptu Aris Rusjana, Polantas yang sabar saat dibentak-bentak pengendara mobil yang melanggar ganjil genap KOMPAS.COM/JIMMY RAMADHAN AZHARIAiptu Aris Rusjana, Polantas yang sabar saat dibentak-bentak pengendara mobil yang melanggar ganjil genap
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Peraturan perluasan pembatasan kendaraan dengan sistem pelat nomor ganjil genap di DKI Jakarta mulai berlaku pada Senin (9/9/2019) di sejumlah ruas jalan di Ibu Kota.

Total ada 25 ruas jalan yang terkena perluasan ganjil genap. Selain bertambahnya ruas jalan, waktu berlaku juga diperpanjang, yakni dari pukul 06.00-10.00 WIB dan pukul 16.00-21.00 WIB.

Baca juga: Lima Hal yang Perlu Dicermati dari Penerapan Ganjil Genap

Budiyanto, pengamat masalah transportasi dan lalu-lintas mengatakan, karena Pergub sudah keluar maka harus dilaksanakan, namun sistem pembatasan ganjil-genap bukan solusi untuk jangka panjang.

" Ganjil genap untuk jangka panjang kurang efektif, untuk jangka pendek oke, buat Asian Games, para Asian Para Games, saat dikaji memang terlihat ada indikator perubahan yang cukup bagus. Tapi untuk jangka panjang di Jakarta tidak efektif," kata Budiyanto kepada Kompas.com, Selasa (10/9/2019).

Demo pengemudi taksi online di depan Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, menuntut pengecualian dalam ganjil genap, Senin (19/8/2019)KOMPAS.COM/RYANA ARYADITA UMASUGI Demo pengemudi taksi online di depan Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, menuntut pengecualian dalam ganjil genap, Senin (19/8/2019)

Mantan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya itu menambahkan, ganjil genap kurang efektif untuk peraturan jangka panjang sebab seiring dengan itu pasti kendaraan akan bertambah terus.

"Apalagi untuk kelas menengah ke atas, kemungkinan mereka akan beli mobil lagi cari nomor yang beda untuk mensiasati ganjil-genap," katanya.

Baca juga: Taksi Online Gagal Dapat Stiker Pengecualian Ganjil Genap

Budiyanto mengatakan, sesuai dengan kajian yang sudah dilakukan, salah satu cara yang tepat untuk mengurai kemacetan ialah dengan menerapkan sistem jalan berbayar atau electronic road pricing ( ERP).

"Program yang efektif itu ERP, dan itu dulu sesuai janji Pemda soal pembatasan kendaraan. Skema 3 in 1, dan ganjil genap itu memang hanya program transisi untuk menuju program jalan berbayar atau ERP," katanya.

Sementara itu, lanjut Budiyanto ERP sempat dijadwalkan terlaksana pada akhir 2018. Namun program tersebut tersendat, bahkan kini Pemprov DKI Jakarta membatalkan lelang proyek ERP tahun 2019.

Para pelanggar jalur ganjil genap di Jalan Gunung Sahari, Pademangan, Jakarta Utara yang terkena sanksi tilang, Selasa (10/9/2019)KOMPAS.COM/JIMMY RAMADHAN AZHARI Para pelanggar jalur ganjil genap di Jalan Gunung Sahari, Pademangan, Jakarta Utara yang terkena sanksi tilang, Selasa (10/9/2019)

Penerapan ERP

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Pemprov DKI Jakarta akan melelang ulang proyek ERP. Pemprov DKI melakukan itu untuk mengikuti pendapat hukum Kejaksaan Agung.

"Pihak kejaksaan sudah mengirimkan surat, menyampaikan bahwa proses tender harus diulang. Jadi, nanti kami harus melakukan ulang," ujar Anies, Kamis (15/8/2019).

Pemprov DKI Jakarta akan mengkaji teknologi ERP bersama Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika. Agar ERP yang diterapkan di Jakarta menggunakan teknologi terbaru.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X