Berbahaya, Jangan Lakukan Slipstream di Tol

Kompas.com - 10/09/2019, 12:02 WIB
Tol Semarang-Solo Kementerian PUPRTol Semarang-Solo

JAKARTA, KOMPAS.com - Melaju di jalan tol harus mengikuti aturan yang ada dan tidak melakukan tindakan atau perilaku yang dapat menyebabkan kecelakaan, salah satunya slipstream. Teknik berkendara tersebut dinilai sangat berbahaya jika dilakukan di jalan raya.

Teknik slipstream sejatinya adalah teknik balap, di mana teknik ini memanfaatkan kendaraan yang ada di depan untuk menahan terpaan angin. Sehingga, laju kendaraan yang dikendarai terasa lebih cepat. Tapi, untuk menikmati ini, kendaraan di belakang harus mengikuti dalam jarak dekat dengan mobil di depannya.

Baca juga: Jangan Lupa, Fungsi Bahu Jalan Tol Sesuai Aturan Hukum

Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengatakan bahwa tindakan slipstream merupakan tindakan paling bodoh yang dilakukan oleh pengendara mobil.

Ilustrasi berkendara di tol trans jawadok.HPM Ilustrasi berkendara di tol trans jawa

Sebab, menurutnya, slipstream di jalan tol memiliki rIsiko yang sangat tinggi terjadinya kecelakaan. Jarak aman antara kendaraan jadi terabaikan. Potensi kecelakaan beruntun juga meningkat, karena kurangnya ruang atau waktu untuk bereaksi atau bermanuver saat kendaraan di depan mengerem secara mendadak.

"Jika mobil tersebut berada di belakang bus yang isinya 40 orang, saat terjadi kecelakaan, satu orang ini bisa mengakibatkan puluhan orang lainnya menjadi terkena dampaknya," ujar Jusri, ketika dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Sanksi yang Menanti Para Pelanggar Bahu Jalan Tol

Teknik slipstream biasa dipakai para pengguna jalan dengan dalih untuk menghemat konsumsi bahan bakar. Memang dengan slipstream, laju mobil tidak terasa berat.

Sebab, terpaan angin terhalang oleh bus atau truk yang ada di depan. Sehingga, konsumsi bahan bakar juga terasa lebih hemat.

"Slipstreaming di tol atau menggunakan transmisi netral saat turunan, dengan tujuan agar konsumsi bahan bakar lebih irit, tapi kecepatannya jadi tinggi. Di situ aspek keselamatan malah dihilangkan," kata Jusri.

Jika tujuannya adalah untuk menghemat konsumsi bahan bakar, sebaiknya gunakan teknik eco-driving atau perhatikan batas kecepatan minimum dan batas kecepatan maksimum. Jaga putaran mesin tetap konstan dan tidak banyak melakukan manuver atau menyalip kendaraan lain.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X