Pengusaha Bus Tanggapi Kecelakaan di Tol Cipularang

Kompas.com - 03/09/2019, 12:14 WIB
Petugas mengevakuasi sejumlah kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Kecelakaan tersebut melibatkan sekitar 20 kendaraan yang mengakibatkan korban 25 orang luka ringan, empat orang luka berat dan delapan orang meninggal dunia. ANTARA FOTO/MUHAMAD IBNU CHAZARPetugas mengevakuasi sejumlah kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Kecelakaan tersebut melibatkan sekitar 20 kendaraan yang mengakibatkan korban 25 orang luka ringan, empat orang luka berat dan delapan orang meninggal dunia.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, angkat suara terkait pristiwa kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tol Cipularang, Senin (2/9/2019).

Dirinya menyayangkan bahwa kejadian kendaraan berat atau dump truck yang hilang kendali akibat rem blong terjadi lagi.

Maka sudah seharusnya berbagai pihak terkait harus duduk bersama untuk merundingkan masalah ini agar tak lagi terjadi.

"Bila melihat kejadiannya, jelas bahwa yang salah adalah truk dari belakang, yang menabrak kendaraan berhenti karena masalah klasik, rem," kata Sani, panggilan akrabnya, saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Baca juga: Olah TKP Kecelakaan Cipularang, Awas Macet Ada Rekayasa Lalu Lintas

Petugas mengevakuasi salah satu kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Kecelakaan tersebut melibatkan sekitar 20 kendaraan yang mengakibatkan korban 25 orang luka ringan, empat orang luka berat dan delapan orang meninggal dunia.ANTARA FOTO/MUHAMAD IBNU CHAZAR Petugas mengevakuasi salah satu kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Kecelakaan tersebut melibatkan sekitar 20 kendaraan yang mengakibatkan korban 25 orang luka ringan, empat orang luka berat dan delapan orang meninggal dunia.

"Tetapi, saya rasa yang terpenting saat ini adalah pencegahan ke depannya seperti apa, karena selalu terulang. Jadi sudah seharusnya segera dibahas lebih lanjut, tidak bisa mengandalkan Kemenhub, Polri, dan beberapa bagian saja tapi semua stakeholder harus komitmen," ujar Sani.

Baca juga: Kecelakaan Tol Cipularang, Indonesia Darurat Supir Truk Berpengalaman

Memang, selama ini sudah ada aturan mengenai batas muatan dan kelaiakan kendaraan sebelum masuk ke jalan raya. Tetapi kontrol yang dilakukan masih dirasa kurang, sehingga banyak pengemudi atau pemilik kendaraan bandel.

"Jadi dibuat saja langsung seperti penyelesaian dan juga penegakkan hukumnya. Semuanya harus sepakat di satu titik untuk menyelesaikan hal ini, tidak bisa parsial saja," kata Sani.

Baca juga: Kecelakaan Cipularang, Bahaya Laten Rem Blong dan Kecepatan Berkendara

Mobil ringsek akibat kecelakaan beruntun di Tol Cipularang Purwakarta, Senin (2/9/2019). 
Tribunjabar.id/Ery Chandra Mobil ringsek akibat kecelakaan beruntun di Tol Cipularang Purwakarta, Senin (2/9/2019).

Pada kesempatan berbeda, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menyatakan, bahwa seringnya kendaraan berat mengalami gagal rem adalah muatan yang melebihi kapasitas (Over Dimension dan Overload/ODOL).

Selain itu, kondisi kendaraan (terkait servis) juga kerap diabaikan oleh pemilik atau pengendara truk. Akibatnya, banyak kendaraan niaga yang mengalami gagal melakiukan pengereman.

"Gagal rem itu disebabkan karena brake drum atau tromol panas (over heating) sehingga daya cengkram kampas rem menurun. Saat hal tersebut terjadi akan ada bau yang keluar dari sisi roda. Pengemudi kendaraan patut merasakan hal itu guna mengantisipasinya," kata Sony.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X