Dianggap Sumbang Polusi, Dishub DKI Jakarta Kaji Pembatasan Motor

Kompas.com - 19/08/2019, 18:39 WIB
Satpam SMAN 4 Tangerang Selatan, Slamet Gunaedi  (47), mendadak menjadi perbincangan masyarakat. Hal itu disebabkan videonya yang tersebar di media sosial memperlihatkan Slamet  merapikan puluhan sepeda motor yang parkir di parkiran sekolah dengan mengelompokan sesuai merek, dan warna motor. Slamet telah 19 tahun melakukan hal itu, Kamis (31/1/2019) KOMPAS.com/ DAVID OLIVER PURBASatpam SMAN 4 Tangerang Selatan, Slamet Gunaedi (47), mendadak menjadi perbincangan masyarakat. Hal itu disebabkan videonya yang tersebar di media sosial memperlihatkan Slamet merapikan puluhan sepeda motor yang parkir di parkiran sekolah dengan mengelompokan sesuai merek, dan warna motor. Slamet telah 19 tahun melakukan hal itu, Kamis (31/1/2019)
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa pengamat transportasi dan juga Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), menyarankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membatasi peredaran sepeda motor untuk menekan polusi. Caranya dengan mengenakan aturan ganjil genap layaknya mobil pribadi.

Saat menyinggung hal ini kembali, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Syafrin Liputo, mengatakan bila sampai saat ini untuk motor belum ada perlakuan khusus seperti pembatasan ganjil genap untuk mobil.

"Seperti yang sempat saya bilang tempo hari, motor kita tidak atur dalam regulasi ganjil genap, jadi baru hanya untuk mobil. Tapi, dalam pelaksanaan perluasan ini, motor tetap kita kaji juga, artinya akan kita evaluasi," ujar Syafrin saat dihubungi Kompas.com, Senin (19/8/2019).

Baca juga: Penyumbang Polusi, Motor Sempat Diwacanakan Kena Ganjil Genap

Lebih lanjut Syafrin menjelaskan bila wacana dan usulan agar motor juga ikut dibatasi melalui ganjil genap sudah pernah dibicarakan oleh berbagai kalangan, termasuk dengan dari KPBB. Tapi memang untuk saat ini motor tidak masuk dalam regulasi pembatasan kendaraan pribadi melalui ganjil genap.

Kemacetan kendaraan dari arah Semanggi menuju ke Grogol saat jam pulang kerja di Jakarta, Rabu (13/2/2013). Kemacetan parah terjadi hampir setiap hari di Jakarta, namun hingga saat ini belum ada solusi yang efektif untuk mengurai kemacetan Jakarta. 

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Kemacetan kendaraan dari arah Semanggi menuju ke Grogol saat jam pulang kerja di Jakarta, Rabu (13/2/2013). Kemacetan parah terjadi hampir setiap hari di Jakarta, namun hingga saat ini belum ada solusi yang efektif untuk mengurai kemacetan Jakarta.

Dari hasil kajian yang dilakukan oleh Dishub, Syafrin menjelaskan memang terjadi peningkatan pengguna motor terutama pada wilayah ganjil genap. Komposisinya mencapai 72 persen, lebih besar dari mobil yang hanya 28 persen.

Namun demikian, Syafrin menjelaskan bila akibat peningkatan pengguna motor tersebut ternyata belum berdampak signifikan pada kemacetan di jalan atau rute-rute ganjil genap. Oleh karena itu, pembatasan motor pun masih menjadi sebuah wacana.

Baca juga: Motor Disebut Penyebab Utama Polusi di Jakarta, Ini Jumlah Populasinya

"Intinya kita tetap pada skema awal, ganjil genap untuk mobil pribadi, belum untuk roda dua," kata Syafrin.

"Kita sudah ada komunikasi dengan beragam pihak seperti KPBB, tapi memang apa yang sudah kita lakukan dan putuskan sampai sekarang masih terus dijalankan. Untuk evaluasi beberapa hari ini belum ada yang bisa kita sampaikan untuk sekarang," ucap dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X