Masih Relevan Kampanye Pakai Helm Sampai Bunyi Klik?

Kompas.com - 23/10/2017, 11:42 WIB
Kasatlantas Polres Brebes AKP Arfan Zulkan Sipayung memasang helm ke pengendara motor saat Ops Zebra 2016 di Jalan Jenderal Sudirman, Brebes, Jawa Tengah. Dok. Humas Res BrebesKasatlantas Polres Brebes AKP Arfan Zulkan Sipayung memasang helm ke pengendara motor saat Ops Zebra 2016 di Jalan Jenderal Sudirman, Brebes, Jawa Tengah.
|
EditorAzwar Ferdian

Jakarta, KompasOtomotif – Hingga sekarang kampanye pakai helm sampai bunyi klik masih disuarakan kepolisian buat mendukung keselamatan berkendara. Namun, apakah kampanye itu masih relevan mengingat pengikat tali helm modern sudah tidak berbunyi klik?

Setidaknya ada tiga jenis pengikat tali helm. Dimulai dari jenis yang paling banyak digunakan di helm di pasaran, yaitu quick release, hingga jenis pengembangannya, micro metric, dan Double D Ring.

Model pengait helm quick release yang berbunyi klik.whitedogbikes.com Model pengait helm quick release yang berbunyi klik.

Bunyi klik ada di pengikat tali jenis quick release. Ketika ingin tali dikaitkan, pengait besi yang ada di ujung tali dimasukan ke dalam gesper hingga bunyi klik. Jenis quick release paling banyak digunakan sebab biasanya ada di helm menengah-bawah di pasaran.

Model pengait helm micro metric berbunyi krek.Febri Ardani/KompasOtomotif Model pengait helm micro metric berbunyi krek.
Jenis micro metric dibuat sebagai pegembangan lebih aman dari quick release. Pengait pada model ini didesain seperti gerigi, jadi ketika dimasukan ke dalam gesper bukan berbunyi klik melainkan “krek”.

Model pengait helm double D ring, dianggap paling aman. Model ini digunakan para pebalap.whitedogbikes.com Model pengait helm double D ring, dianggap paling aman. Model ini digunakan para pebalap.
Selain keduanya itu ada jenis lainnya yang termasuk tertua yaitu double D ring. Penggunaannya tidak berbunyi sebab tidak ada gesper, tali dikaitkan dengan simpul di dua besi berbentuk huruf D. Jenis ini dianggap paling aman karena sulit lepas dan digunakan para pebalap.

Edo Rusyanto, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) menjelaskan kampanye klik digunakan sebab paling populer di Indonesia. Justru yang tidak populer adalah tiga jenis pengait helm itu.

“Prinsipnya orang lebih populer dengan kata klik, ada double D ring yang digunakan di motor balap, ada klik, dan ada digeser. Kalau kita bisa sepakati pakai helm itu harus dikunci, dikatikan, atau dilekatkan, bukan sekadar bunyi klik,” kata Edo Rusyanto, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), di Jakarta, Kamis (19/10/2017).

Helm klik sudah baik, malah Edo justru menyoroti pemahaman keliru “pakai helm biar tidak kecelakaan”. Dia mengatakan, pakai helm atau tidak, kecelakaan bisa saja terjadi. Namun, helm bisa melindungi dari risiko cedera berat sampai kehilangan nyawa.

“Jadi kampanyenya, pakailah helm, lalu dikunci, direkatkan, dikaitkan, menggunakan alat yang sudah disediakan. Jadi kalau disingkat pakailah helm dan dikunci, enggak harus klik,” ucap Edo. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X