Skuter Listrik, Honda Telan Ludah Sendiri

Kompas.com - 07/09/2016, 07:02 WIB
|
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif – Gelagat Astra Honda Motor (AHM) untuk “cari perhatian” di segmen kendaraan roda dua bertenaga listrik mulai terbaca, lewat program Uji Coba Perilaku Berkendara dengan Sepeda Motor Listrik. Guna mendapat perhatian pemerintah, produsen sekaligus pemasar sepeda motor Honda ini lantas menggandeng Kementerian Perhubungan dan akademisi Universitas Indonesia.

Namun pihak AHM menampik, kalau hadirnya program tersebut karena terpancing, oleh gaung dari skuter listrik Gesits, hasil kolaborasi Garansindo dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang juga menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

Saat berbincang dengan KompasOtomotif, Muhammad Al Abdullah, Presiden Direktur Grup Garansindo menganggap, perilaku AHM terbilang lucu. Pasalnya, sebelumnya sempat menganggap teknologi skuter listrik masih jauh dari jangkauan.

Baca juga : Honda Belum Kepikiran Sepeda Motor Listrik

“Bagus tentunya, berarti Honda ikut sadar akan skuter listrik. Namun jika membaca pernyataan-pernyataan sebelumnya, AHM seakan menelan ludah sendiri,” ujar pria yang akrab disapa Memet, Selasa (6/9/2016).

Memet melanjutkan, pihaknya tetap menyambut baik upaya AHM untuk ikut masuk di segmen sepeda motor listrik. Karena dengan ini, masyarakat Indonesia yang akan diuntungkan, salah satunya akan hadir beberapa pilihan produk, tidak hanya satu.

“Tapi tentunya kembali lagi, kami berharap kalau masyarakat bisa lebih mencintai produk karya anak bangsa. Semoga akan banyak lagi produk-produk anak bangsa lainnya lahir, setelah skuter listrik Gesits. Sudah waktunya bangsa ini kaya dari produk dalam negeri,” ucap Memet.

Baca juga : Bos Honda Masih Pesimistis pada Sepeda Motor Listrik

Jadi Pelopor

Memet melanjutkan, kalau pihaknya juga tidak gentar jika harus bersaing dengan merek asing seperti Honda. Dirinya percaya diri kalau merek-merek baru akan banyak menguasai dan sukses di teknologi terbaru, seperti motor listrik.

“Sejarah mencatat, teknologi listrik berkembang bukan dipelopori oleh merek-merek konvensional, tapi merek baru, Tesla salah satu contohnya. Merek-merek konvensional masih memiliki banyak kepentingan, di pasar yang telah membesarkannya (mesin dengan pembakaran),” ucap Memet.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.