Bea Masuk Impor Mobil Naik untuk Dorong Investasi

Kompas.com - 25/07/2015, 10:02 WIB
Garansindo menyediakan pilihan mesin 6.4L HEMI untuk pemilik Jeep Wrangler. KompasOtomotif-Donny AprilianandaGaransindo menyediakan pilihan mesin 6.4L HEMI untuk pemilik Jeep Wrangler.
|
EditorAzwar Ferdian
Jakarta, KompasOtomotif - Keputusan pemerintah menaikkan bea masuk (BM) atau impor duty lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 132 Tahun 2015 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan tarif Bea Masuk Atas Barang Impor cukup mengejutkan. Terutama bagi agen tunggal pemegang merek yang masih mengandalkan pasokan impor utuh completely built up (CBU) dari luar Indonesia.

Pada regulasi baru itu diputuskan kalau BM impor mobil CBU dinaikkan menjadi 50 persen dari sebelumnya cuma 40 persen.

"Bea masuk menjadi 50 persen hanya untuk mobil CBU impor dan arahnya untuk meningkatkan nilai tambah produksi dalam negeri. Agar lebih menarik untuk memproduksi di Indonesia dari pada sekedar impor," ucap Saleh Husin, Menteri Perindustrian kepada KompasOtomotif, Jumat (24/7/2015) petang.

Menperin memberikan penjelasan, semua kebijakan yang diambil permintah akan selalu melalui berbagai tahap pertimbangan. Termasuk, mengajak para pemegang kepentingan untuk diskusi bersama, terutama para agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang beroperasi di Indonesia.

Usulan kenaikan ini, lanjut Menperin, sudah disampaikan sejak setahun lalu. Hanya saja baru resmi dikeluarkan Juli 2015 ini.

"Keberatan bea masuk impor yang tinggi ini hanya dikeluhkan oleh importir umum dan ATPM yang basis produksinya ada di Thailand dan Malaysia, terutama untuk merek-merek kendaraan bermotor asal Eropa dan Amerika Serikat," ujar Saleh.

Kurangi Impor

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, dengan kebijakan baru ini, pemerintah Indonesia berharap bisa mengurangi laju impor produk-produk industri, salah satunya dari otomotif. Menurut Saleh, beberapa ATPM yang merakit lokal mobil di Indonesia juga masih mengandalkan impor untuk memasok model lain sesuai kebutuhan pasar.

"Justru di kala pasar luar negeri maupun di dalam negeri sedang lesu, maka impor harus dikurangi dan devisa harus dihemat," ucap Saleh.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.