Salin Artikel

Indonesia Harus Bisa Jadi Pemain Global Kendaraan Listrik

JAKARTA, KOMPAS.com - Tingkat emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas industri, khususnya sektor manufaktur menjadi musuh bersama industri otomotif dalam negeri. Jadi, dibutuhkan berbagai langkah strategis agar menekannya.

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyebut, salah satu upaya yang bisa dilakukan ialah menghadirkan produk ramah lingkungan dengan Multi-Pathway Approach dan menciptakan proses manufaktur yang ramah lingkungan alias green manufacturing.

Produk ramah lingkungan yang dimaksud meliputi kendaraan elektrifikasi lengkap, dari flexy-engine, Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Battery Electric Vehicle (BEV), biofuel, sampai LCGC.

"Dalam mencapai Net-Zero Emission pada 2060, sebagaimana komitmen Indonesia yang sudah diputuskan, kita harus setuju bila musuh bersama kita adalah emisi karbon," kata Warih Andang Tjahjono Presiden Direktur TMMIN dalam seminar virtual, Rabu (25/5/2022).

"Kami meyakini bahwa pengembangan kendaraan elektrifikasi perlu melibatkan seluruh stakeholder industri otomotif. Mulai dari para pemangku kebijakan, pelaku bisnis, sampai akademisi terutama generasi muda," lanjutnya.

"Jadi, mari kita wujudkan agar semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk turut berkontribusi menurunkan emisi karbon. No one left behind," kata Warih lagi.

Langkah strategis itu juga memiliki tujuan supaya Indonesia bisa menjadi pemain global produsen kendaraan listrik yang dapat berkompetisi dan berperan penting dalam rantai suplai pasar internasional.

Apalagi, selama ini TMMIN tidak hanya memasarkan produk kendaraan di Indonesia tapi juga ekspor dengan komposisi 50:50. Demikian pula untuk kendaraan elektrik alias listrik nanti.

Dalam kesempatan serupa, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Emma Rachmawati menyebut bahwa industri manufaktur turut menyumbang emisi dalam aktivitasnya.

Apabila ditarik lebih jauh, maka sektor transportasi menjadi salah satu turunan dalam kegiatan dimaksud walau tidak secara langsung.

Berdasarkan datanya, sampai dengan 2021 kegiatan yang melibatkan renewable energy baru sekitar 13 persen. Sementara target pemerintah, mencapai 23 persen pada 2025.

"Sehingga energi baru dan terbarukan harus segera cepat diadopsi guna menekan emisi gas rumah kaca," kata dia.

https://otomotif.kompas.com/read/2022/05/25/172100815/indonesia-harus-bisa-jadi-pemain-global-kendaraan-listrik

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.