Salin Artikel

Penjualan BMW Motorrad Indonesia Terdampak Covid-19, tetapi Tidak Dalam

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 memukul penjualan produsen sepeda motor. Bukan hanya merek Jepang yang harganya relatif terjangkau tapi juga merek Eropa.

Salah satu merek yang penjualannya terimbas karena pandemi ialah BMW Motrorrad. Merek asal Jerman yang identik dengan motor besar dan harga premium.

Meski demikian, Direktur Pemasaran BMW Motorrad Indonesia Agung Dewanto mengatakan, penurunan penjualan BMW Motorrad tidak terlalu dalam seperti segmen lain.

"Kalau kita bandingkan penjualan motor secara umum (2020) turun 47-48 persen dibanding tahun lalu (2019). Tapi kita tidak sedalam itu, mungkin di segmen ini terimbas tapi tidak semuanya. Kami turun 25-28 persen dibanding tahun lalu (2019). Jadi cukup lumayan, kita optimis tahun ini bisa recovery segera," kata Agung saat sesi tanya jawab IIMS Virtual 2021 via daring, Kamis (18/2/2021).

Agung mengatakan, penurunan penjualan BMW Motorrad Indonesia terjadi sejak Maret 2020 yaitu saat kasus Covid-19 pertama kali dinyatakan ada di Indonesia.

"Kita terpukul ketika diumumkan pada Maret 2020, sebetulnya kuartal 1 terpukul karena orang menahan, kemudian di kuartal kedua benar-benar terjun bebas dari Maret sampai semester pertama (Juni)," katanya.

"Kami bingung mau ngapain, traffic tidak ada orang tidak ada yang datang ke showroom, sebab orang takut. Orang tidak datang ke showroom karena takut," katanya.

Beruntung kata Agung, penurunan pada 2020 cukup tertolong sebab sebelum pandemi BMW Motorrad Indonesia mulai gencar menawarkan produk di marketplace.

"Untungnya sebelumnya kita sudah mempersiapkan diri sebelum pandemi. Sebelum pandemi kami sudah mendorong orang (pelanggan) untuk aktif ke media online," katanya.

"Jadi sebelum pandemi paling tidak sudah mendorong pendekatan penjualan pakai media online. Saat itu kita sudah kerjasama dengan platfrom marketplace yaitu di Tokopedia dan Blibli," katanya.

Agung mengatakan, sebelum pandemi pihaknya sudah menjual motor lewat sistem online. Meski motor yang ditawarkan berhaga ratusan juta rupiah.

"Sebetulnya yang kita dorong itu bukan cuma penjualan motor, tapi banyak hal lain yang kita bisa tawarkan ke pelanggan, ada apparel, aksesoris dan lifestyle-nya," katanya.

"Itu yang kita dorong, paling tidak kita memperkenalkan brand BMW ini dikenal di level mana saja, dan motor juga ditawarkan di sana," katanya.

Agung mengakui memang tidak mudah menjual motor dengan sistem online. Apalagi motornya tidak murah. Tapi paling tidak, pihaknya mendorong ke arah baru.

"Untuk motor yang lebih premium kita masuk ke register online. Jadi kita menyasar ke platfrom marketplace yang segmennya sesuai dengan target market. Itu lumayan," katanya.

"Kemudian kedua, saat pandemi BMW terus mendatangkan produk baru. Masalahnya ketika produk itu ada bagaimana kita menyalurkannya ke pelanggan," katanya.

"Jadi tahun lalu kita tahun lalu launching online, pakai influencer dan key opinion leader (KOL) supaya lebih mendapat viewers. Itu berhasil," kata Agung.

https://otomotif.kompas.com/read/2021/02/19/090200515/penjualan-bmw-motorrad-indonesia-terdampak-covid-19-tetapi-tidak-dalam

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.