Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Asosiasi Ini Masih Ragu dengan Penggunaan B30

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral Dadan Kusdiana mengatakan bahwa implementasi biosolar B30 siap dilakukan.

Berdasarkan hasil kajian bersama dan uji jalan, penggunaan B30 untuk kendaraan niaga dan penumpang, atau sejenisnya, tidak ditemukan masalah. Sehingga, bisa diterapkan mulai 1 Januari 2020 mendatang.

"Kami sudah yakin sudah tidak ada masalah lagi dari sisi kualitas bahan bakar dan kesiapan pengguna," kata Dadan di keterangan resminya, Rabu (30/10/2019).

Ia juga menyebut bahwa produksi B30 tidak terkendala. Sejauh ini seluruh rangkaian proses pada produsen sudah lancar. Hanya saja memang untuk distribusinya berpotensi memiliki masalah.

"Karena waktu itu sangat berpengaruh terhadap bahan bakar. Kalau tidak pas, berpotensi degradasi atau berkurang kualitasnya. Namun saat ini belum ada hambatan seperti itu," ujar dia.

Namun Organisasi Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danai, dan Penyebrangan (Gaspasdap) berpandangan lain. Penerapan B30 membahayakan keselamatan transportasi dan tidak berpengaruh signifikan terhadap impor BBM.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah impor migas Indonesia pada 2018 mencapai 50,4 juta ton, sedangkan impor solar sekitar 4,6 juta ton per tahun, atau 9 persen terhadap impor migas. Sementara porsi impor solar terhadap total impor nonmigas, hanya 1,6 persen.

"Kami menilai mandatory B30 dengan tujuan mengurangi impor solar tidak efektif. Sebab, dampaknya relatif kecil. Bahkan malah bisa membuat ruang bakar atau mesin kapal akan kotor sehingga muncul viskositas, nozel dan saringan injector menjadi rusak," kata Ketua Dewan Pembina Gaspasdap Bambang Haryo Soekarto.

Pernyataan serupa juga datang dari Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), yang menyebut masalah penggunaan B20 pada kendaraan saat ini belum terselesaikan dengan baik.

"Saya pribadi sepakat memang dengan pemanfaatan sawit, tapi harus diperhatikan apakah sudah kompatibel dengan teknologi yang ada, kualitasnya bagaimana, penyedia bahan bakar (distribusinya) seperti apa. Jangan sampai membuat permasalahan baru di lapangan karena teman-teman yang pakai B20 masih terkendala," kata Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan di kesempatan terpisah.

Permasalahan umum penggunaan biodiesel ialah bahan bakar yang akan mengeras pada cuaca dingin. Hal tersebut cukup sulit untuk diselesaikan karena sudah menjadi sifat alamiah kandungan bio yakni gel.

"Jadi pengguna masih sering membakar tangki solar saat pagi hari supaya bahan bakar kembali mencair. Ini masalah, terlepas dari jangka waktu penggantian filter yang menjadi lebih cepat karena kotor," ujarnya.

https://otomotif.kompas.com/read/2019/10/30/092200715/asosiasi-ini-masih-ragu-dengan-penggunaan-b30

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke