Menyorot Kemampuan Mengemudi Sopir Bus Maut di Subang - Kompas.com

Menyorot Kemampuan Mengemudi Sopir Bus Maut di Subang

Kompas.com - 12/02/2018, 10:22 WIB
Warga melihat lokasi tabrakan di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2). Sebanyak 26 orang meninggal dunia dan 17 orang luka-luka akibat kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Yusup Suparman Warga melihat lokasi tabrakan di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2). Sebanyak 26 orang meninggal dunia dan 17 orang luka-luka akibat kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat.

Jakarta, KOMPAS.com — Kecelakaan maut yang melibatkan sebuah bus pariwisata terjadi di kawasan Tanjakan Emen, Jalan Raya Bandung- Subang, Kampung Cicenang, Ciater Subang, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2018) sore. Data sementara, ada 27 orang yang dinyatakan tewas dari peristiwa tersebut, seorang diantaranya pengendara sepeda motor yang ditabrak oleh bus.

Kecelakaan itu menarik perhatian banyak kalangan yang mempertanyakan kelayakan jalan dari bus yang digunakan. Namun ada hal lain yang dianggap tidak penting untuk disoroti, yakni kemampuan mengemudi dari sopir bus.

Baca juga : Bus Terguling di Subang, Rombongan Baru Pulang Piknik dari Tangkuban Perahu

Pendiri Director Jakarta Defensive Driving Center (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, dalam setiap kecelakaan maut yang melibatkan angkutan umum, seringkali orang hanya terfokus pada layak atau tidaknya bus, seperti rem, perawatan dan hal teknis lainnya. Namun luput memperhatikan layak atau tidaknya kemampuan mengemudi sopir.

"Menyoroti hal teknis kendaraan tidak salah. Tapi ada baiknya juga dipikirkan kelayakan pengemudinya. Faktor orangnya juga harus diperhatikan," kata Jusri kepada Kompas.com, Minggu (11/2/2018).

Ilustrasi kecelakaan lalu lintastwitter.com/tmcpoldametro Ilustrasi kecelakaan lalu lintas

Jusri menilai saat ini masih banyak sopir angkutan umum yang tidak dibekali dengan pelatihan untuk menunjang kemampuannya, baik yang terkait safety driving ataupun yang sifatnya emergency respons. Para sopir, kata Jusri, hanya mengemudikan bus bermodalkan SIM saja.

Karena itu, Jusri menilai para pemangku kebijakan di bidang transportasi sudah harusnya memikirkan masalah regulasi serta pengawasan yang ketat untuk pengemudi angkutan umum. Bila mengacu ke peraturan di negara-negara maju, Jusri menyebut pengemudi kendaraan berat seperti bus yang membawa banyak orang, ataupun truk alat berat harus melewati tahapan uji kompetensi sebelum bisa memiliki SIM.

Baca juga : Indonesia Tanpa Standar Pendidikan Mengemudi

"Pengendara sudah didik berbagai pengetahuan terkait safety driving, baik mengenai cara berkendara ataupun prosedur dan teknik pengereman yang benar," kata Jusri.

Bus maut Subang diketahui sedang dalam perjalanan membawa wisatawan dari Tangerang Selatan. Para wisatawan ini baru saja meninggalkan wisata kawah Gunung Tangkuban Parahu di Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, untuk kembali pulang ke Tangerang Selatan via Tol Cikopo-Palimanan yang bisa diakses dari Gerbang Tol Subang Kota.

Setelah keluar dari gerbang Tangkuban Parahu, bus harus melewati turunan panjang sekitar kurang lebih 2 kilometer. Saat melewati turunan panjang yang curam dan berkelok-kelok di tengah kebun teh dan hutan pinus itulah, bus mengalami kecelakaan tragis.


Komentar
Close Ads X