"Secara psikologis, pengemudi merasa lebih penting dan bertindak lebih seenaknya di jalan. Ini menyebabkan mereka enggan memberi jalan kepada orang lain, meskipun bisa berbahaya dan berpotensi menyebabkan senggolan," ujar Jusri.
Ketiga yaitu efek sosial media. Jusri mengatakan, banyaknya video pengemudi Pajero dan Fortuner yang disebarkan di media sosial semakin menguatkan citra pengemudi yang arogan di jalan.
"Berita tentang kejadian tidak normal yang melibatkan mobil-mobil besar ini sering tersebar luas. Tindakan arogan mereka sering kali mencolok, terekam, dan disebarkan," katanya.
Baca juga: Fenomena Harga Tinggi Suzuki Satria Hiu Bekas
"Ini menyebabkan munculnya anggapan bahwa semua pengemudi mobil seperti Pajero atau Fortuner bersikap arogan, padahal tidak semua pengemudi seperti itu. Ini adalah fenomena generalisasi," ungkap Jusri.
Keempat kata Jusri faktor sopir. Sebetulnya belum tentu sang pemilik yang jalan sembrono bisa jadi yang mengendarai mobil ialah sopir yang kurang adab saat mengemudi.
"Banyak pengemudi mobil-mobil besar ini adalah sopir yang mengendarai mobil pejabat atau bos. Hal ini memengaruhi cara mereka memperlakukan pengendara lain di jalan," katanya.
Kelima, terakhir, Jusri mengatakan, persepsi juga membentuk stiga bahwa pengemudi Pajero dan Fortuner ialah orang yang tidak memperdulikan keadaan orang lain di jalan/
"Persepsi. Karena mobil-mobil besar sering menjadi sorotan, ada bias persepsi yang terbentuk," katanya.
Baca juga: Kawal Konsumen Mudik Lebaran, Honda Hadirkan Diler Siaga
"Pengemudi mobil besar sering dianggap ugal-ugalan dan tidak sopan, yang langsung dianggap sebagai konfirmasi bahwa semua pengemudi Pajero dan Fortuner bersikap arogan. Ini terjadi karena branding yang ada," ujar Jusri.
Hal yang penting dicatat kata Jusri, arogan atau tidak bukan perkara mobilnya, tetapi pengemudinya yang mempengaruhi situasi di jalan.
Budiyanto, pengamat masalah transportasi dan hukum menilai, adanya kesan mobil Pajero dan Fortuner arogan tidak bisa dipukul rata, tapi dilihat dari pengemudinya masing-masing.
"Menurut hemat saya tidak demikian. Mungkin karena kedua mobil tersebut berukuran cukup besar dan sering berlalu lintas mengambil lajur kanan dan ngebut sehingga timbul kesan arogan," katanya.
"Semua tergantung kepada masing-masing individu," kata Budiyanto.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.