Berhenti di Lampu Merah, Pengendara Motor Harus Tetap Waspada

Kompas.com - 14/09/2021, 18:21 WIB
Tampak tanda jarak fisik pengendara seperti starting Grid di Moto GP dibuat di ruang henti khusus (RHK) Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (16/7/2020). Polda Janar membuat tanda ini do 159 di 22 Kota/Kabupaten di wilayah Polda Jabar, sebagai salah satu upaya penerapan protokol kesehatan di Jalanan. KOMPAS.COM/AGIE PERMADITampak tanda jarak fisik pengendara seperti starting Grid di Moto GP dibuat di ruang henti khusus (RHK) Jalan Merdeka, Kota Bandung, Kamis (16/7/2020). Polda Janar membuat tanda ini do 159 di 22 Kota/Kabupaten di wilayah Polda Jabar, sebagai salah satu upaya penerapan protokol kesehatan di Jalanan.

JAKARTA, KOMPAS.com – Jalan raya merupakan tempat yang berbahaya, kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Bahkan di persimpangan, ketika menunggu lampu merah berubah jadi hijau, bisa saja bahaya datang dari belakang.

Pengendara motor biasanya diam paling depan ketika berada di lampu merah. Namun bahayanya, ada saja kejadian seperti pengemudi yang hilang kesadaran atau truk yang blong berjalan dari belakang, menabrak apa yang ada di depannya.

Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, tabrak belakang di lampu merah memang sulit diprediksi. Kejadian seperti ini harusnya membuat para pengendara motor lebih waspada.

Baca juga: Mengenal Kode Pelat Nomor Kendaraan Dinas TNI

TABRAKAN --Satu orang tewas ditempat dan satu luka berat setelah truk box Indomaret menerobos lampu merah perempatan Pasar Pagotan hingga menabrak tiga sepeda motor dan satu mobil di ruas jalan nasional Madiun-Ponorogo, Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Jumat (23/4/2021) soreKOMPAS.COM TABRAKAN --Satu orang tewas ditempat dan satu luka berat setelah truk box Indomaret menerobos lampu merah perempatan Pasar Pagotan hingga menabrak tiga sepeda motor dan satu mobil di ruas jalan nasional Madiun-Ponorogo, Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Jumat (23/4/2021) sore

“Untuk prediksi dari arah belakang, hanya bisa dengan dibiasakan untuk melihat kaca spion. Karena hanya dengan kaca spion, kita bisa memantau area belakang kendaraan,” ucap Agus kepada Kompas.com, belum lama ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lewat kaca spion, setidaknya bisa terlihat mobil atau kendaraan lain yang nampaknya tidak mengerem. Jadi pengendara motor bisa dengan menghindar, memberi jalan, atau meninggalkan motornya untuk selamatkan nyawa.

Selain itu, ketika berhenti di lampu merah, ada teknik keselamatan berkendara yang perlu diketahui. Misalnya dengan menurunkan kaki kiri, bukan kaki kanan ketika berhenti, ini ada alasannya.

Baca juga: Belajar dari Kasus Ferrari Ringsek di Tol, Ini Etika Pindah Lajur di Jalan Tol

“Alasannya, kaki kanan tetap berada di pedal rem belakang, jadi jika ditabrak dari arah belakang, kondisi motor tetap kuat,” kata Agus.

Selain itu, alasan kedua kaki kiri yang turun adalah karena lalu lintas di Indonesia yang mengharuskan kendaraan menyalip dari kanan. Jadi kaki kanan aman, tidak terlindas kendaraan lain saat di lampu merah.

“Tapi situasional juga, ketika kita berhenti di sisi kanan, maka kaki kanan yang turun agar lebih aman. Safety riding itu fleksibel, tidak kaku dan harus disesuaikan dengan keadaan lingkungan berkendara,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.