Kompas.com - 24/02/2016, 17:07 WIB
EditorAgung Kurniawan

Jakarta, KompasOtomotif - Belum terlihatnya ada keseriusan pemerintah Inodnesia dalam mengembangkan teknologi mobil listrik di dalam negeri membuat dua putra bangsa mengambil kesempatan di negeri orang. Keduanya memutuskan untuk mengambil pinangan dari Malaysia untuk mengembangkan mobil listrik.

"Sampai sekarang masih dikembangkan, dua anggota kami pergi ke Malaysia untuk mengembangkan mobil listrik nasional negeri itu. Mereka dibayar," ucap Sukotjo Herupramono, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Kendaraan Listik Bermerek Nasional (Apklibernas) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2016).

Saat ditanya nama kedua putra bangsa yang "dibajak" Malaysia untuk mengembangkan mobil listrik nasionalnya, Sukotjo memilih untuk bungkam. Satu hal yang ingin ditekankan Sukotjo adalah, kemampuan Indonesia dalam mengembangkan teknologi sebenarnya besar dan potensial. Namun, karena kurang diperhatikan sehingga kesempatan melayang.

"Maksud kami, teknologi mobil listrik ini kan masih baru. Untuk itu Indonesia punya kesempatan yang sama dengan negara lain," kata Sukotjo lagi.

Saat ditanya soal "pengalaman buruk" proyek mobil listrik nasional besutan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang bermasalah dan menjebloskan beberapa pengusaha ke bui, Sukotjo mengaku angkat topi.

"Intinya kami menghargai semua upaya yang sudah dilakukan teman-teman sebelumnya. Tetapi, potensi ini memang benar ada dan wajib dimaksimalkan," ucap Sukotjo.

Ricky Elson

September 2015 lalu, Ricky Elson, pencipta mobil listrik nasional Selo, menyatakan ada tawaran padanya untuk mengembangkan prototipe untuk Malaysia. Sejak awal, Selo memang dicita-citakan punya generasi penerus. Selo sendiri adalah hasil pengembangan mobil sport listrik Tuxuci yang digagas mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

"Kalau ada yang bisa lebih bagus untuk kami berkarya kenapa tidak. Kesempatan terbuka di sana," ujar Ricky saat dihubungi KompasOtomotif, Kamis (3/9/2015).

Ricky lebih lanjut mengatakan, status yang ia buat tidak berarti sindiran kepada siapa pun dan bukan wujud rasa kecewa. "Itu serius, bukan pekerjaan saya sindir-sindiran. Saya serius. Saya gak kecewa karena dari awal saya sudah tahu bagaimana proses pengembangan di Indonesia. Saya dari awal tahu bahwa masih jauhlah dari harapan, maksudnya itu ya negeri kita ini perlu banyak belajar. Itu saja," kata Ricky.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.