Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tantangan Industri Otomotif, Pengembangan Semikonduktor di Indonesia

Hal ini tentunya menjadi permasalahan yang akan dihadapi oleh Indonesia dalam program elektrifikasi kendaraan. Bahkan, produksi kendaraan listrik secara lokal juga akan terhambat.

Adapun industri semikonduktor berperan penting dalam teknologi yang tengah populer, seperti remote working, artificial intelligence (AI), dan electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik.

Sementara itu, silikon menjadi material yang penting dalam pembangunan industri semikonduktor.

Silikon dapat dihasilkan dari pengolahan bahan baku silika (SiO2), antara lain pasir silika kuarsit dan batu kuarsa dengan beragam proses. Namun, saat ini belum ada industri pengolahan silika hingga wafer silikon di Indonesia.


Director of Enterprise Intel Indonesia Corporation Fransiskus Leonardus mengatakan, berdasarkan perhitungan Intel, pembuatan pabrik manufaktur pada periode 2020 membutuhkan nilai investasi sebesar 10-15 miliar dollar AS.

“Jumlah tersebut mengalami kenaikan dibandingkan pada 2010 dengan nilai investasi sebesar 6 miliar dollar AS,” katanya, dikutip dari situs web kemenperin.go.id, Jumat (9/12/2022).

Di sisi lain, Intel mendukung penuh pengembangan industri semikonduktor dalam negeri yang akan ditindaklanjuti oleh Kemenperin melalui nota kesepahaman. Dukungan tersebut antara lain untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang mampu melakukan desain cip.

“Sebab, dalam proses desain semikonduktor hal yang perlu diperkuat adalah dari sisi R&D, termasuk penyiapan SDM. Selama ini belum ada desain made in Indonesia. Negara tetangga seperti Malaysia sudah memiliki desain tersendiri. Bahkan, satu negara tertentu bisa memiliki lebih dari 20 desain,” kata Fransiskus.

Pada keterangan yang sama, Country Manager Indonesia STMicroelectronics Slamet Wahyudi mengatakan, bahan baku utama semikonduktor, yaitu foundry, sekitar 56 persen dikuasai oleh TSMC, kemudian Samsung 16 persen, UMC 7 persen, Global Foundry 6 persen, SMIC 4 persen, dan lainnya 12 persen.

“Proses manufaktur setelah foundry ada beberapa proses yang dikerjakan oleh robot dan diawasi oleh manusia. Ada beberapa orang Indonesia yang bekerja di bagian research and development (R&D),” kata Slamet.

Menurut Slamet, ekosistem semikonduktor perlu penguatan pada proses R&D agar dapat berkembang dan dikomersialisasikan. Langkah tersebut sudah dipraktikkan oleh Singapura dan Malaysia.

https://otomotif.kompas.com/read/2022/12/09/170100615/tantangan-industri-otomotif-pengembangan-semikonduktor-di-indonesia

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke