Salin Artikel

Di Balik Fenomena Truk ODOL, Sopir Butuh Kernet tapi Pendapatan Minim

JAKARTA, KOMPAS.com – Fenomena truk ODOL (over dimension dan overload) belakangan kembali ramai. Apalagi setelah sopir truk dari berbagai daerah melakukan aksi unjuk rasa menolak aturan ODOL.

Djoko Setijowarno, akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, mengatakan, pengemudi truk saat ini sudah jarang yang membawa kernet. Dampaknya, regenerasi sopir truk terhambat alias tidak ada.

“Saat ini pengemudi truk jarang ada yang mau membawa kernet agar masih ada sisa uang yang bisa dibawa pulang untuk keluarganya," tutur Djoko, dalam keterangan tertulis (25/2/2022).

“Biasanya sopir belajar mengemudi ketika dia menjadi kernet, menggantikan sopir yang lelah. Namun karena saat ini ongkos muat kembali ke angka pada tahun 2000-an, sudah terlalu minim, maka perolehan bagi hasil antara pengemudi dengan pengusaha truk pun anjlok,” ujar dia.

Menurut Djoko, selain mengakibatkan kaderisasi pengemudi truk jadi terhambat, banyaknya pengemudi truk yang tidak membawa pendamping atau kernet sama sekali juga menyebabkan tingginya angka kecelakaan tunggal.

Sebab waktu dan tenaga yang mestinya sopir gunakan untuk istirahat terpaksa dia gunakan untuk melakukan pekerjaan kernet.

Biasanya jika ada kernet, pengemudi bisa tidur saat bongkar dan muat barang. Namun tidak adanya kernet mengharuskan pengemudi harus melakukan penghitungan barang yang dibongkar dan dimuat.

"Pengemudi truk juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menutup barang muatan. Selain itu, masih juga harus melakukan perawatan kendaraan, seperti melakukan pengecekan tekanan angin dan bahkan melakukan bongkar dan pasang ban sendiri,” kata Djoko.

Selain itu, istirahat pengemudi pun jadi tidak relaks benar. Pasalnya, jika tidurnya terlalu lelap, ketika bangun bisa hilang semua barang bawaannya.

Seiring juga ketika ada sopir yang tertidur terlalu lelap di rest area jalan tol, maka muatan truk akan digerayangi oleh pencuri yang berada di situ atau barang muatannya dilubangi dan diambil oleh begal truk.

"Sekarang malah yang lebih populer lagi adalah pencurian speedometer, accu, dinamo dan ban cadangan," ujar Djoko.

Ia menambahkan, pengemudi truk dinilai menanggung beban sistem logistik yang salah. Para sopir ini harus bertanggung jawan atas barang-barang yang dibawa. Kemudian setiap terjadi kecelakaan lalu lintas, pengemudi dijadikan tersangka.

Kemudian setiap terjadi kecelakaan lalu lintas, pengemudi dijadikan tersangka. Belum lagi masih suburnya pungli di sepanjang perjalanan aliran logistik, serta minimnya bimbingan teknis.

"Jadikan pengemudi truk itu mitra, bukan tersangka. Kompetensi pengemudi truk ditingkatkan, pendapatan dinaikkan," ucap Djoko.

https://otomotif.kompas.com/read/2022/02/26/124100215/di-balik-fenomena-truk-odol-sopir-butuh-kernet-tapi-pendapatan-minim

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.