Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Beda Jalan Toyota dan Honda Soal Pengembangan Mobil Listrik

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam konferensi pers yang diselenggarakan baru-baru ini, Toyota dan Honda mengungkapkan perbedaan tajam soal pengembangan mobil listrik pada masa depan.

Dilansir dari Asia Nikkei, Toyota Motor menargetkan sebanyak 8 juta kendaraan listrik terjual pada 2030, dengan tiga perempat di antaranya merupakan mobil hybrid atau plug-in hybrid, dan sisanya mobil listrik berbasis baterai atau fuel cell.

Toyota berkeyakinan bahwa konsep hybrid akan terus berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Pasalnya mobil listrik (EV) sampai saat ini masih mahal dan adanya tantangan soal sebaran stasiun pengisian daya.

Sementara itu, Honda Motor mengatakan, bahwa mereka hanya akan meluncurkan EV dan kendaraan fuel cell pada 2040.

Pengumuman ini membuat Honda jadi merek otomotif Jepang pertama yang mengumumkan penghentian penggunaan mobil bertenaga bensin, sekaligus menempatkan dirinya sejalan dengan persaingan otomotif global.

Keputusan ini jelas membagi industri otomotif Jepang dalam dua kubu, mana yang realistis dan mana yang lebih layak. Meski kedua perusahaan sebetulnya sama-sama menargetkan zero carbon pada 2050, seperti tujuan pemerintah Jepang.

Koichi Sugimoto, analis senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, mengatakan, Toyota tengah membangun fondasi dari berbagai teknologi agar tetap fleksibel.

“Karena tren teknologi dan opini publik di masa depan masih belum diketahui,” ucap Sugimoto, dikutip dari Asia Nikkei (19/5/2021).

Sugimoto menjelaskan, industri otomotif telah menghadapi pasang surut dan berbagai terobosan teknologi. Termasuk teknologi mesin diesel, yang meski punya banyak keunggulan, kini perlahan menghilang setelah skandal emisi.

Toyota disebut-sebut punya strategi apabila permintaan EV mengalami pergeseran ke teknologi lainnya.

“Pembuat mobil telah menegaskan kembali bahwa konsumenlah yang memilih teknologi apa yang mereka inginkan,” kata Sugimoto.

Tetapi Sanshiro Fukao, rekan senior di Itochu Research Institute, mengatakan, Honda lebih realistis dalam pendekatan ramah lingkungan dan selaras dengan perkembangan zaman.

Karena dekarbonisasi melalui kendaraan listrik menjadi dasar pemikiran internasional saat ini untuk mengurangi emisi.

“Ini adalah pertanyaan apakah pembuat mobil dapat menangani peraturan politik luar negeri atau tidak," kata Fukao, dalam kesempatan yang sama.

Pernyataan Fukao merujuk pada aturan Uni Eropa yang menyetujui penilaian total emisi karbon dioksida dari proses pembuatan baterai.

Uni Eropa juga bersiap untuk memperkenalkan apa yang disebut mekanisme penyesuaian pembatasan karbon dengan menaikkan biaya impor dari negara-negara yang dianggap berbuat terlalu sedikit untuk mengurangi emisi.

Amerika Serikat kabarnya sedang mempertimbangkan untuk mengikuti hal ini. Tak heran jika Honda bergerak maju untuk mengurangi beban ini, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ekspor dari Jepang.

Fukao juga menambahkan, walaupun penjualan mobil hybrid akan mendapat untung dalam lima tahun mendatang. Namun argumen Presiden Toyota Akio Toyota yang tidak mau terburu-buru dalam penjualan EV, jelas tidak sejalan dengan industri global.

https://otomotif.kompas.com/read/2021/05/19/180100415/beda-jalan-toyota-dan-honda-soal-pengembangan-mobil-listrik

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke