Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Sensasi Goyang Pantura dengan Xpander

JAKARTA, KOMPAS.com - Perjalanan Komparasi Jalur Trans Jawa yang dilakukan redaksi Kompas.com beberapa waktu lalu, tidak hanya fokus pada kondisi infrastruktur, tapi sekaligus menjadi ajang uji ketangguhan Mitsubishi Xpander. Mulai dari handling, performa, sampai konsumsi bahan bakar.

Perjalanan menuju Surabaya dilakukan oleh dua tim, pertama melintasi tol Trans-Jawa, kedua lagi menyusuri jalur nostalgia Pantai Utara, alias Pantura. Kali ini kami mau membahas pengalaman menempuh perjalanan via Pantura. Tentu saja ini akan menjadi momen untuk menguji unit Xpander Sport yang dikendarai.

Seperti telah diungapkan sebelumnya, lepas dari Simpang Jomin, kondisi jalan hingga Surabaya bisa dibilang hampir 80 persen didominasi permukaan aspal "kriting" yang bergelombang. Jadi judul "Goyang Pantura dengan Xpander" ini, memang secara harafiah demikian adanya.

Hal tersebut membuat tim yang menjelajah Trans Jawa melalui Pantura selalu merasakan guncangan. Meski cukup menggangu, namun sistem peredam Xpander masih mampu memberikan peredaman dengan baik, sehingga tidak begitu mengusik kenyamanan di dalam kabin.

Menempuh perjalanan sejak pagi hingga siang hari, melewati wilayah Jawa Barat hingga masuk ke Jawa Tengah, kebetulan situasinya tidak begitu padat. Xpander pun masih bebas berakselerasi dengan mesin 1.500 cc yang telah dilengkapi teknologi Mitshubishi innovative valve timing control (MIVEC), yang mampu memproduksi tenaga sebesar 104 tk dan torsi 141 Nm.

Ruas jalan yang lebih lebar baru ditemui ketika mamasuki Jawa Tengah, di sini tim pun mencoba mengajak Xpander sedikit lebih agresif dengan sering menekan pedal gas lebih dalam sehingga putaran tenaga lebih keluar. Secara garis besar, untuk seukuran multi purpose vehicle (MPV) berpenggerak roda depan, Xpander masih terbilang responsif.

Tidak butuh waktu lama bagi Xpander menyentuh kecepatan 100 kpj saat diajak berakeselarasi dari titik diam. Menariknya sejak dari bawah, putaran tenaganya sudah terasa, sehingga kapan pun pedal gas ditekan, respon mesin untuk menghasilkan power yang lebih besar bisa berjalan cukup singkat.

Putaran tenaga responsif yang dimiliki Xpander sangat membantu ketika redaksi harus menyalip dengan cepat deretan kendaraan alat berat yang ramai ditemui saat sore hari. Tiap perpindahan gigi dari transmisi otomatis empat percepataannya pun terbilang mulus meski masih konvensional.

Beruntung transmisi otomatis Xpander sudah dilengkapi dengan tombol overdrive (OD) yang berguna untuk menghimpun tenaga ketika akan berakselerasi menyalip kendaraan lain. Tidak hanya saat berakselerasi, keberadaan OD juga sangat membantu saat melakukan pengereman untuk mengasilkan engine brake yang bisa meredam laju mobil.

Dari segi handling, Xpander juga tidak kalah responsif dengan tenaganya. Kondisi ini sangat terasa ketika harus bermanuver agresif usai menyalip kendaraan di depan atau ketika melintas di jalur berkelok seperti saat memasuki Alas Roban.

Sayangnya, penerangan Xpander ketika berkendara malam hari tidak begitu mambantu. Cahaya yang dihasilkan lampu depan seakan tidak maksimal sehingga mengganggu visibilitas dan memaska pegemudi selalu stand by dengan lampu jauh, apalagi saat melintasi jalan yang memang minim dengan penerangan layaknya saat tim mulai memasuki daerah Jawa Timur.

Dari pengalaman berkendara Xpander di jalur Pantura, dengan ragam kondisi jalan serta variasi berkendara, tim Pantura mengantongi konsumsi bahan bakar sebesa 12,88 kpl melalui metode full to full, sedangkan angka di MID menunjukan 13,3 kpl. Jumlah tersebut selisih tipis dengan Xpander yang digunakan melalui Tol Trans Jawa, yakni 12,89 kpl dengan catatan di MOD 13,8 kpl.

https://otomotif.kompas.com/read/2019/01/28/151659915/sensasi-goyang-pantura-dengan-xpander

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke