Salin Artikel

Simak Seberapa Ribet "Riding" Lintas Negara

JAKARTA, KOMPAS.com - Berkendara naik sepeda motor alias riding lintas negara cukup sering dilakukan "biker" di luar negeri. Belakangan aksi serupa kini juga dilakukan para biker Indonesia. Terakhir seperti yang dilakukan Gunadi (41) yang telah memulai aksi petualangannya dari Jakarta ke Himalaya.

Berbicara mengenai riding lintas negara, ada beberapa kesulitan yang mungkin dihadapi dalam perjalanan. Hal inilah yang sudah dipelajari oleh Gunadi sebelum memulai perjalanannya pada Minggu (26/8/2018).

Ditemui beberapa waktu lalu, Gunadi sempat menuturkan beberapa hambatan yang mungkin akan ditemuinya dalam perjalanan ke Himalaya. Yang pertama adalah ketiadaan kapal ferry untuk menyeberang dari Sumatera Utara ke Port Kelang, Malaysia.

Menurut Gunadi, selama ini biker Indonesia yang hendak riding lintas negara di Asia Tenggara bagian utara via Malaysia, selalu menyeberang menggunakan kapal penumpang. Motor sebenarnya tetap bisa dibawa. Namun karena berstatus barang bawaan di kapal penumpang, maka ada ongkos relatif besar yang harus dikeluarkan.

"Jadi penyeberangan ke Malaysia selalu pakai kapal penumpang, satu motor satu orang. Biayanya Rp 5 juta," kata Gunadi.

Setelah sampai di Malaysia, Gunadi menyebut tidak ada kendala berarti untuk masuk negara tersebut. Sebab Malaysia termasuk negara yang menerima SIM Internasional.

Masalah justru datang saat akan melintas masuk ke Thailand. Menurut Gunadi, Thailand merupakan negara yang tidak menerima SIM Internasional. Jadi untuk bisa masuk ke negara tersebut, biker harus mengurus pembuatan SIM negara yang bersangkutan.

Bila ditambah dengan pengurusan dokumen-dokumen lainnya, Gunadi menyebut biaya yang harus dikeluarkan selama melintas di Thailand bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 25 juta.

"Itu biaya yang harus dikeluarkan saat mulai masuk sampai nantinya keluar di perbatasan selanjutnya," ujar Gunadi.

Keterangan yang sama juga disampaikan Stephen Langitan. Stephen adalah biker Indonesia yang belum lama ini menyelesaikan "solo riding" dari Jakarta ke London selama hampir lima bulan.

Menurut Stephen, menyeberang ke Malaysia dengan menggunakan kapal penumpang merupakan cara paling efisien. Sebab layanan ini ada setiap harinya.

"Kalau mau pakai kapal barang, hanya ada dari Dumai atau Belawan. Tapi lama nunggunya. Harus nunggu muatan penuh baru kapalnya jalan," kata Stephen.

Stephen juga membenarkan kesulitan yang dialaminya saat melintasi Thailand. Menurut Stephen, Thailand adalah negara yang punya peraturan sendiri dan cenderung ribet.

"Waktu saya lewat Thailand bisa lolos lewat pintu perbatasan yang lain. Urusannya gampang dengan carnet," ujar Stephen.

Setelah berhasil melewati Thailand, Stephen menyebut nyaris tak ada lagi kendala yang dialaminya sepanjang perjalanan dari Myanmar, hingga akhirnya tiba di London pada pertengahan Agustus lalu.

"Carnet dicap petugas custom mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Nepal, Pakistan dan Iran. Saat mulai masuk Turki sampai Eropa wajib punya asuransi," pungkas Stephen.

https://otomotif.kompas.com/read/2018/08/28/124200915/simak-seberapa-ribet-riding-lintas-negara

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.