Bos Toyota Ungkap Potensi Masalah pada Mobil Listrik

Kompas.com - 22/12/2020, 07:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Toyota Motor Corporation (TMC) Akio Toyoda menyatakan bahwa perubahan industri otomotif menuju era elektrifikasi atau electric vehicle battery (BEV) yang berlebihan bisa menjadi masalah besar.

Bahkan pada suatu kondisi tertentu, sumber tenaga yang dimiliki oleh negara seperti Jepang dapat menjadi cepat habis khususnya di musim panas. Sementara pembangunan infrastruktur pendukung sangat kompleks dan tidak murah.

Menurut Toyoda, biaya yang dibutuhkan sebagai pondasi dukungan mobil listrik antara 14 triliun yen dan 37 triliun yen atau setara dengan 135 miliar dolar AS sampai 358 miliar AS (sekitar Rp 5 triliun).

Baca juga: Tekan Impor BBM, Program Kendaraan Listrik Berbasis Baterai Diresmikan

 

Akio Toyota Ketua Umum JAMAcaradvice.com Akio Toyota Ketua Umum JAMA

Di samping itu, masih banyak negara yang menghasilkan listrik dari pembakaran batu bara dan gas alam. Maka, peralihan tidak membantu upaya terwujudnya lingkungan bersih dan sehat lewat pengurangan emisi karbon.

"Ketika politisi di luar sana berkata, 'Mari kita singkirkan semua mobil yang menggunakan bensin,' apakah mereka memahami ini?" kata dia dilansir Wall Street Journal, Senin (21/12/2020).

"Saat kondisi belum siap, semakin banyak mobil listrik yang diproduksi maka karbondioksidanya makin buruk pula," tambah Toyoda.

Ia juga khawatir kebijakan yang diterapkan pemerintah malah membuat mobil listrik mahal dan tidak terjangkau masyarakat.

Baca juga: Anomali Mobil Elektrifikasi di Tengah Pandemi

Lexus UX 300e merupakan sebuah compact luxury crossover SUV pertama yang ditenagai mesin full listrik atau battery electric vehicle (BEV). DOK. LEXUS INDONESIA Lexus UX 300e merupakan sebuah compact luxury crossover SUV pertama yang ditenagai mesin full listrik atau battery electric vehicle (BEV).

Sebelumnya, diberitakan Reuters, Sabtu (5/12/2020), pemerintah Jepang sedang bersiap menghapus penjualan mobil bermesin pembakaran dalam pada pertengahan 2030 mendatang.

Hal ini demi mendukung target Perdana Menteri baru Jepang, Yoshihide Suga yang berupaya mengurangi jumlah emisi karbon di Jepang hingga nol persen di 2050.

Pihak Kementerian Perindustrian Jepang juga dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mewajibkan model baru yang keluar ke depannya merupakan mobil hybrid dan listrik.

Toyoda melanjutkan ketika Jepang terlalu terburu-buru melarang mobil bertenaga bensin, bisnis industri model mobil saat ini kemungkinan akan runtuh. Efek hal ini dikatakan mampu menghapus jutaan pekerjaan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.