PLN Garansi Tarif Ngecas Kendaraan Listrik Lebih Murah dari Bensin

Kompas.com - 05/09/2019, 10:27 WIB
SPKLU PLN untuk Kendaraan Listrik SPKLU PLN untuk Kendaraan Listrik
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Euforia kendaraan listrik di Indonesia telah dimulai. Satu per satu para instansi dari beragam sektor yang terkait sudah berlomba menyodorkan ragam failitas serta inovasi terkait infrastruktur pendukungnya.

Meski demikian, masalah soal tarif listrik masih belum putus. Seperti diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) baru akan berdiskusi lebih dalam dengan pihak Perusahaan Listrik Negara, untuk menentukan tarif yang pas untuk konsumsi kendaraan listrik.

"Saat ini yang kita gunakan itu 1.650 per kWh, tapi nanti akan kita diskusikan lagi berapa tarif yang pantas, apakah akan ada insentif lain agar menekan harga atau bagaimana itu belum diputuskan," ucap Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan ESDM Wanhar, dalam gelaran Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Baca juga: Bakal Ada 3 Tipe Colokan Kendaraan Listrik di Indonesia

Ketika bertemu dengan General Manager PLN Disjaya M Ikhsan Asaad, secara terpisah dirinya menmbenarkan bila masalah penetapan tarif sampai saat ini masih terus dikaji, terutama untuk yang nantinya diterapkan pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum ( SPKLU).

Simulasi pengisian bahan bakar listrik mobil Hybrid BMW i8  saat acara penyerahan kunci di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Penyerahan unit pertama kali dilakukan oleh BMW dengan penyerahan kunci secara resmi oleh President Director BMW Group Indonesia Karin Lim kepada pemilik pertamanya.KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI Simulasi pengisian bahan bakar listrik mobil Hybrid BMW i8 saat acara penyerahan kunci di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Penyerahan unit pertama kali dilakukan oleh BMW dengan penyerahan kunci secara resmi oleh President Director BMW Group Indonesia Karin Lim kepada pemilik pertamanya.

Ikhsan juga menjelaskan bila beberapa operator transportasi umum yang akan menggunakan bus listrik telah meminta kejelasan soal insentif tarif yang bakal diberikan oleh PLN untuk pengisian daya operasional.

"Betul kita masih diskusikan. Saat ini kita pakai Permen 27/2016 itu kan Rp 1.650 per kWh, nanti akan kita lihat, mungkin memberi insentif, tapi kita lagi bicarakan dengan regulator, skemanya bagaimana supaya pihak swasta juga ikut tertarik untuk investasi," ujar Ikhsan.

Ketika ditanya soal kisaran tarifnya nanti akan menjadi berapa, Ikhsan hanya menegaskan bila semua itu nanti akan tergantung dari biaya investasi charging sendiri yang akan dijadikan sebagai faktor N dalam penentuan tarif.

Baca juga: Pentingnya Standarisasi Baterai Kendaraan Listrik

Sripeni Inten Cahyani, Plt. Direktur Utama PLN meninjau dan mencoba Motor listrik Gesit dalam Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Sripeni Inten Cahyani, Plt. Direktur Utama PLN meninjau dan mencoba Motor listrik Gesit dalam Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik.

Tapi dia menegaskan yang pasti tarif listrik per 1 kWh untuk untuk mobil atau motor listrik nantinya akan lebih murah dari harga bahan bakar minyak (BBM).

"Misalnya sekarang Rp 1.650 per kWh, nanti akan dikalikan dengan faktor N tadi, bisa saja menjadi Rp 2.200 per kWH. Tapi yang jelas dan pasti harus lebih murah dari harga bensin saat ini, mau itu Pertamax atau Pertalite akan kita cari selisih lebih murahnya," kata Ikhsan.

Cadangan Listrik di Jakarta

Tidak hanya itu, Ikhsan juga mengklaim bila PLN Disjaya juga akan menambah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) mulai tahun ini. Dia juga memastikan bila tidak ada masalah soal cadangan listrik di areanya.

Dengan cadangan listrik sebesar lima sampai enam Megawatt (MV), menurut Ikhsan Jakarta yang terkoneksi dengan Jawa-Bali memiliki total kapasitas mencapai 32 ribu MV. Sementara beban puncak yang terpakai hanya 26 ribu sampai 27 ribu MV saja.

SPKLU PLN untuk Kendaraan Listrik SPKLU PLN untuk Kendaraan Listrik

Baca juga: Jalan-jalan di Pameran Kendaraan Listrik IEMS 2019 [VIDEO]

"Total di Jakarta itu 12 ribu MV, saat terpakai dalam kapasitas beban puncak itu hanya sampai tujuh hingga delapan ribu MV, masih ada sisa yang belum terpakai, dan itu cukup untuk dikonsumsi kendaraan listrik pada tahun-tahun pertama. Mungkin nanti kalau populasi kendaraan listrik sudah satu juta unit baru kelihatan," ujar Ikhsan.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X