Sering Kena Macet Berjam-jam, Waspadai Efek Hormonal

Kompas.com - 21/05/2018, 18:48 WIB
Sejumlah kendaraan melaju di Gerbang Tol Cibubur 2 Tol Jagorawi, Jakarta, Senin (16/4/2018). Uji coba yang dilakukan setiap hari Senin-Jumat kecuali hari libur nasional tersebut dimulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB diharapkan dapat mengurai kemacetan. MAULANA MAHARDHIKASejumlah kendaraan melaju di Gerbang Tol Cibubur 2 Tol Jagorawi, Jakarta, Senin (16/4/2018). Uji coba yang dilakukan setiap hari Senin-Jumat kecuali hari libur nasional tersebut dimulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB diharapkan dapat mengurai kemacetan.

Jakarta, Kompas.comMacet dan stres merupakan padanan yang kerap keluar. Ternyata efek tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga orang lain atau lingkungan terdekat.

Parahnya lagi, itu akan berpengaruh kepada kesehatan badan dalam jangka waktu dekat maupun panjang.

" Stres, frustrasi, dan juga selalu timbul rasa tertekan adalah efek dari kemacetan. Bagaimana tidak, seharusnya hanya 20 menit sampai tujuan, tetapi ini bisa sampai 1 jam lebih, bahkan 2 jam. Situasi ini juga pastinya tidak dialami satu kali atau dua kali, tapi hampir setiap hari. Sedangkan tubuh kita tidak dirancang untuk bisa menahan stres dalam jangka waktu yang lama," ujar sorang psikolog Roslina Verauli beberapa waktu silam.

Tiap individu, lanjut Vera, memiliki respons yang berbeda-beda. Ada yang hanya mengeluh, mengeluarkan teriakan-teriakan, dan ada pula yang menanggapinya dengan emosional.

Gambaran kekerasan dalam kendaraan saat mengemudi dengan kurang lembut.captured via Youtube Gambaran kekerasan dalam kendaraan saat mengemudi dengan kurang lembut.
Kemudian ada juga respons fisiologis (tubuh), seperti ada yang cuma kelelahan, pegal-pegal atau bahkan sampai ada yang pingsan.

Hormonal

"Selain efek tersebut, ada juga efek hormonal, yakni badan akan mengalami sakit-sakitan. Namun yang pasti, respons setiap individu berbeda-beda karena memang secara profil klinis, ketahanan tubuh manusia tidak sama," ujar Vera.

Saat seseorang sudah mengalami stres dan frustrasi, plus kondisi tubuh yang lelah, maka berakibat negatif pada situasi harmonisasi lingkungan terdekat.

Mengemudi termasuk seni mengendalikan emosi. Jika tak pintar menyikapi, ternyata hal ini bisa memicu gangguan psikologis.SHUTTERSTOCK Mengemudi termasuk seni mengendalikan emosi. Jika tak pintar menyikapi, ternyata hal ini bisa memicu gangguan psikologis.
"Perlu diingat bahwa mereka (individu yang stres karena macet) terikat pada sebuah sistem, dan sistem paling kecil dari individu tersebut yaitu keluarga. Jadi jika salah satunya bermasalah, relasi intim akan terganggu," tutur Vera.

Efek lain yang akan ditimbulkan yaitu maki-memaki, bahkan berkelahi di jalan, saling meneriaki, dan masih banyak lagi hal buruk lain yang muncul.

"Itu normal, kita semua jadi agresif di jalan, karena agresif sendiri muncul dari kondisi stres yang berlebihan," ucap Vera.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X