Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Produsen Sebut Standardisasi Baterai di Indonesia Masih Sulit

JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring dengan bertumbuhnya industri kendaraan listrik di Indonesia, model-model terbaru semakin sering dijumpai di pasaran.

Baik itu mobil listrik atau motor listrik, tampilannya kini tidak monoton lagi, sebab sudah mengusung desain unik khas produsen masing-masing. Selain itu, pabrikan lokal juga mulai unjuk gigi dan memamerkan model-model terbarunya.

Akan tetapi, keseragaman tersebut dianggap masih memiliki kelemahan, yakni belum adanya standardisasi baterai, khususnya untuk motor listrik, yang bisa digunakan oleh banyak model dan terkesan ringkas.

Menteri Perindustrian (menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, penerapan standardisasi motor listrik dianggap mampu meningkatkan kenyamanan penggunaan, dan mempermudah konsumen.

Oleh karenanya, Agus menganjurkan, bahkan menantang produsen motor listrik untuk membantu realisasi terselenggaranya standardisasi baterai.

“Oleh karenanya perihal standardisasi baterai ini, saya memberikan challange (tantangan) pula bagi para produsen kendaraan listrik roda dua,” ucapnya di Tangerang, belum lama ini.

Merespon pernyataan tersebut, Tenggono Chuandra Phoa, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menjelaskan, standardisasi baterai motor listrik nampaknya masih cukup sulit diterapkan.

Alasannya, Indonesia masih belum memiliki satu perusahaan independen khusus dan mampu menjadi produsen baterai kendaraan listrik, serta sudah memiliki unit contoh yang bisa menjadi proof of concept.

“Ini (standardisasi baterai) topik yang teknis sekali ya. Sangat-sangat teknis, dan bisa agak menantang,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat (11/10/2023).

Tenggono lanjut mengambil China sebagai contoh patokan. Sebagai negara dengan tingkat kendaraan listrik tinggi, namun ternyata tidak memberlakukan standardisasi baterai.

“China itu negara dengan pengguna EV paling banyak di dunia. Di sana itu tidak diberlakukan standardisasi baterai,” kata dia.

Dia mengatakan, persoalan baterai seolah menjadi hak prerogatif masing-masing produsen kendaraan listrik, mengenai tipe, jenis, serta kapasitas.

“Teknologi baterai itu berevolusi, di sini kan masih bicara SLA atau Lithium-ion, kalau di sana (China) baterainya sudah level LTO (lithium-titanium oxide),” ujarnya.

Menurutnya, fokus utama yang harus secepatnya diselesaikan di Indonesia adalah terkait penyaluran kendaraan listrik, supaya secepatnya terserap dan jumlah penggunanya meningkat.

https://otomotif.kompas.com/read/2023/11/13/151200715/produsen-sebut-standardisasi-baterai-di-indonesia-masih-sulit

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke