Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanpa "Upgrade" Kilang, Euro IV Tersendat oleh Pertamina

Kompas.com - 06/04/2017, 09:23 WIB
Ghulam Muhammad Nayazri

Penulis

Jakarta, KompasOtomotif – Pertamina menjadi kambing hitam, terkait dengan keterlambatan Indonesia menetapkan standar Euro IV.  Kesiapan kilang untuk memproduksi bahan bakar yang memenuhi spesifikasi, jadi andalan Pertamina untuk berkilah.

Setelah ditandatangani 10 Maret 2017 lalu, aturan Euro IV bakal berlaku efektif September 2018 untuk mesin bensin dan Maret 2021 untuk mesin diesel. Pertamina akhirnya dipaksa untuk impor, demi memenuhi kebutuhan itu, pasalnya upgrade kilang disebut-sebut baru rampung pada 2025.

Menanggapi hal tersebut, Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menyatakan kekecewaannya. Dirinya mengatakan, Indonesia sebenarnya bisa bebas ketergantungan impor produk BBM, sepanjang rajin me-review kondisi kilang, agar mampu meng-upgrade-nya, sehingga mampu hasilkan produk yang memenuhi kebutuhan mesin kendaraan secara up to date.

Baca juga: Rama Sahetapy dan Merdianti Octavia Hadir ke Rumah Duka Ray Sahetapy

“Sejak tahun 2000, kami telah mengingatkan agar Pertamina dan pemerintah mengupayakan membangun, up-grade dan modifikasi kilang, sehingga mampu memenuhi kebutuhan teknologi otomotif,” ucap Safrudin kepada KompasOtomotif, Rabu (5/4/2017).

Safrudin melanjutkan, keengganan untuk membangun tersebut yang menyebabkan Pertamina tak mampu penuhi kebutuhan teknologi kendaraan bermotor Euro IV, dan terkait alasan pendanaan, disebut Safrudin tidak mendasar.

“Sebuah perusahaan besar seperti Pertamina, tentu memiliki akuntansi pembiayaan yang sangat cermat dan canggih, berikut manajemen keuangan yang efektif, dan seharusnya mampu mengelola depreciation cost atas kilang-kilang. Jadi ketika kilang tersebut sudah habis umur ekonomisnya, maka Pertamina telah memiliki cadangan biaya penyusutan (accumulated depreciation cost) yang mampu digunakan membangun kilang baru tanpa tergantung kepada kreditur,” kata Safrudin, menjelaskan.

Baca juga: Ray Sahetapy Sempat Berwasiat Ingin Dimakamkan di Kampung Halamannya

2014 lalu, Pertamina menandatangin memorandum of understanding (MoU) Refining Development Master Plan (RDMP) dengan tiga mitra strategis, Saudi Aramco, China Petroleum Chemical Corporation (Sinopec), serta JX Nippon Oil & Energy Corporation.

Suntikan dana yang digelontorkan mencapai 25 dolar AS atau setara dengan Rp 333 triliun (nilai tukar Rp 13.327). Fase pertama baru dimulai pada 2018 dan rampung di 2022 untuk Balongan, Cilacap, Balikpapan, serta Plaju. Sementara itu, kilang Dumai akan ditingkatkan kapasitas produksinya pada fase kedua, yang dimulai 2021, dan berakhir 2025.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Perjuangan Petugas Penyelamat Gempa Myanmar, Bertaruh Nyawa di Bangunan Miring dan Ambruk
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau