Rabu, 3 September 2014

Otomotif


Toyota Soluna, Penakluk Lancer Evolution

Penulis: Aris F. Harvenda | Senin, 24 Desember 2012 | 11:17 WIB
Dibaca:   Komentar:
|
Share:
  • Sumber : KompasOtomotif | Author : AFH

    Tampilan sederhana

  • Sumber : KompasOtomotif | Author : AFH

    Mesin dahsyat bertenaga 350 Ps

  • Sumber : KompasOtomotif | Author : AFH

    Interior dibiarkan standar

  • Sumber : KompasOtomotif | Author : AFH

    Bemper dilubangi agar lebih ringan

Jakarta, KompasOtomotif -  Subaru Impreza WRX STi atau Mitsubishi Lancer Evolution, jangan sekali-sekali menantang adu kebut Toyota Soluna produksi 2000 milik Windran ini. Tampilannya sih, tidak gahar. Keempat roda menggunakan pelek Enkei 15 inci, plus lips spoiler belakang dengan bodi berkelir merah, tapi tenaga mesinnya sangat dahsyat.

350 PS
Boleh percaya boleh tidak, Soluna ini mempunyai tenaga maksimum 350PS, naik empat kali lipat lebih dari standarnya yang hanya 85 PS. Bisa sebesar itu,  Ewin - panggilan akrab Windran - banyak melakukan modifikasi pada mesin, mulai dari jeroan sampai  memasang turbo Zage  yang dibelinya Rp 5 juta. Urusan mendongrak optimal performa  dipercayakan pada Apre, punggawa bengkel AP Speed, di kawasan Jakarta Timur.

Untuk mendapatkan tenaga sampai 350PS, Apre mengganti blok mesin standar dengan punya All New Corolla berkapasitas 1,8 liter.  Termasuk juga piston dan setang standar ditukar dengan Corolla Trueno bermesin 4AGZE. Throttle body memakai Corolla GTi sedangkan intake mengambil punya Great Corolla.

Nah, beberapa  komponen penunjang turbo seperti pipa, adaptor serta injektor tambahan dibuat secara kustom. Lainnya seperti intercooler memakai produk Apexi, boost control Gizmo, saringan udara HKS dan pompa bensin Wallbro. "Pompa bensinnya punya karakter unik karena harus dalam kondisi basah.  Karena masih memakai tangki standar maka posisi bensin tidak boleh kurang dari setengah biar terendam. Kalau tidak bisa ngadat," beber Ewin yang bekerja di Imigrasi Jakarta Barat ini.

Untuk kebutuhan adu kebut, boost  dipatok  1,2 bar, sedang pemakaian sehari-hari cukup 0,6 bar. Meski sudah ditingkatkan tenaga, mesin basi bisa "minum" Pertamax.  Kondisi itu tidak lepas dari pengaturan "otak" tambahan yang menggunakan piggyback Dastek. "Karena dulunya saya pakai yang versi Q maka harus pakai turbo modul. Sebenarnya fitur tersebut sudah ada di varian Q+," ungkap pria berbadan subur ini.

Starlet Turbo
Ketika mesin usai dikerjakan, ternyata girboks Soluna tak bisa mengimbangi tenaga yang besar itu karena rasio final gear masih terlalu besar sehingga performa tidak maksimal. Setelah dihitung ternyata transmisi Starlet turbo sesuai dengan porsi tenaga tersebut. Dan untuk kopling agar tidak slip dipasang produk TRD.

Total modifikasi ini menghabiskan dana sekitar Rp 70 jutaan - hampir sama dengan harga mobilnya. Ketika diadu di lintasan drag race 402 meter, mampu menorehkan waktu 13,5 detik. "Itu juga belum maksimal dan saya sempat angkat gas menjelang finis. Karena mendaftar ikut kelas 14 detik (maksimal catatan waktu 14,0 detik) dengan waktu tempuh segitu, ya, breakout," sesal Ewin. Saat lomba, katanya, lawannya (Mitsubishi Evolution) jauh di belakang dan mobil sangat kencang.

Mau lihat aksinya saat drag race? Simak video berikut.


Editor : Bastian