LCGC Akan Berakhir

Kompas.com - 23/04/2019, 12:55 WIB
Daihatsu Ayla turbo sapa pengunjung GIIAS 2019 Surabaya AI-DSODaihatsu Ayla turbo sapa pengunjung GIIAS 2019 Surabaya

Denpasar, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian mengusulkan regulasi baru berupa harmonisasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) kendaraan bermotor di Indonesia. Dalam regulasi baru ini, program low carbon and green car ( LCGC) alias Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar dan Harga Terjangkau ( KBH2) juga disebut mobil murah, bakal berakhir.

Harjanto, Dirjen Industri Logam Mesin Elektronik dan Alat Transportasi (ILMTA) Kementerian Perindustrian, mengatakan, dalam skema baru PPnBM kendaraan bermotor, tidak lagi berpatokan pada model kendaraan sedan atau 4x2 atau kapasitas besaran mesin. Dalam regulasi baru, aturan besaran PPnBM berlaku atas seberapa besar emisi gas buang yang dihasilkan.

"Jadi dalam rangka mendorong kendaraan ramah lingkungan, jadi industri kami paksa. Kami sebutnya harmonisasi, jadi ada yang naik atau turun nanti PPnBM-nya. Usulan sudah di Kemenkeu dan sudah dibahas ke DPR, sudah oke, tinggal ditunggu saja," ucap Harjanto di Denpasar, Selasa (23/4/2019).

Salah satu program yang kemudian menjadi tanda tanya adalah program mobil murah atau LCGC. Pasalnya, mobil murah ini adalah satu-satunya kendaraan penumpang yang dibebaskan dari beban PPnBM, selama mampu memenuhi persyaratan, antara lain kandungan lokal tinggi, nilai investasi, merek berlafas lokal, dan lain sebagainya.

Baca juga: Toyota Tak Masalah Bila LCGC Kena Tambahan Pajak

Toyota Agya di IIMS 2018KOMPAS.com / Aditya Maulana Toyota Agya di IIMS 2018

"Bukan berakhir, tetap berjalan, tetapi nanti akan kena PPnBM 3 persen dari yang sebelumnya nol. Tetapi, ada persyaratan harus memenuhi emisi tertentu," ucap Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan, Putu Juli Ardika.

Jeda 2 Tahun

Harjanto kemudian, menjelaskan, setiap merek yang sudah memproduksi dan memasarkan LCGC, akan diberikan waktu kompensasi supaya bisa memenuhi standar emisi regulasi PPnBM yang baru. Jeda waktu ini diberikan supaya industri mau investasi lagi, agar model-model mobil murah yang ada di pasar bisa lebih ramah lingkungan.

"Mereka harus investasi lagi kalau mau dapat insentif, bisa hybrid, mild hybrid. Makannya, mengapa mild hybrid kami masukan dalam skema, supaya tidak direbut negara lain. Kami akan berikan waktu jeda 2 tahun untuk industri mempersiapkan diri," ucap Harjanto.

Baca juga: Target Lokalisasi Komponen Utama LCGC Jilid I Sudah Lunas?

All new Honda Brio Satya di GIIAS 2018STANLY RAVEL All new Honda Brio Satya di GIIAS 2018

Dalam regulasi baru, penghitungan PPnBM kendaraan dilakukan berdasarkan konsumsi bahan bakar dan tingkat emisi CO2. Dengan begitu, semakin rendah emisinya, maka tarif pajaknya pun akan semakin kecil. Pengelompokan kapasitas mesin pun hanya akan dibagi dua kelompok yakni di bawah 3.000 cc dan di atas 3.000 cc.

Ada tiga kategori kendaraan yang diatur besaran PPnBM-nya. Pertama, kendaraan penumpang, terbagi dua, dilihat dari daya angkut penumpang, yakni kurang dan lebih dari 10 orang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X