Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Bengkel Konversi Motor Listrik Harus Punya Standardisasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah RI tengah mempercepat penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) sebagai upaya tercapainya Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Salah satu instrumen yang bisa mendorong hal tersebut ialah dilakukannya konversi sepeda motor berbahan bakar fosil (Internal Combustion Engine/ICE) menjadi listrik berbasis baterai.

"Program konversi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk bisa mempercepat adopsi penggunaan kendaraan listrik, khususnya roda dua di Indonesia," kata Ketua Umum Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) Dannif Utojo Danusaputo dalam diskusi terbatas di Jakarta, Senin (24/7/2023).

Namun, kata Dannif lagi, bengkel konversi yang terdaftar saat ini mash cukup sedikit. Mereka pun belum memiliki suatu standardisasi khusus yang tersertifikasi supaya bisa mempercepat proses konversi.

Standardisasi yang dimaksud mencakup pemfokusan suatu komponen untuk satu model tertentu.

"Kalau tidak salah, saat ini ada 16 bengkel konversi. Kalau memungkinkan, mereka bisa memiliki sebuah standardisasi. Semisal, mohon maaf sebut merek, hanya untuk Honda BeAT sebagai salah satu motor terpopuler di sini," kata Wakil Ketua Bidang Teknis AEML, Patrick Atmadjaja.

"Fokus saja untuk model tersebut. Punya kit-nya, bracket, dan lain sebagainya yang memang khusus. Itu akan lebih cepat dibandingkan ketika motor datang harus diukur dulu, dilihat lagi dimensi baterai apakah masuk atau tidak," tambahnya.

Apabila hal tersebut dilakukan secara kontinu maka semua pengerjaan konversi jadi lebih efektif dan efisien. Lebih jauh, pelaku usaha juga bisa mengembangkan aspek lain yang berhubungan seperti komponen pendukung pada kendaraan listrik.

"Dengannya, itu akan jadi industri bukan lagi pekerjaan tangan (pengerjaan satu-satu berdasarkan permintaan). Harapannya dengan semakin marak perkembangan EV, juga bisa menumbuhkan industri motor listrik," kata Patrick.

"Komponen motor itu memang belum ada di Indonesia, itu menjadi komponen cukup besar pada TKDN. Controller misalnya, di luar baterai. Kalau baterai memang masih menunggu dari teman-teman di upstream. Tapi di luar itu, seperti controller, motor listrik, perlu tumbuh di Indonesia," tambahnya lagi.

https://otomotif.kompas.com/read/2023/07/25/094200515/bengkel-konversi-motor-listrik-harus-punya-standardisasi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke