Go-Jek Mau Sahamnya Dibeli Pengemudi - Kompas.com

Go-Jek Mau Sahamnya Dibeli Pengemudi

Kompas.com - 15/02/2018, 15:13 WIB
Ribuan pengemudi Go-Jek melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor manajemen PT Go-Jek, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (3/10/2016). Mereka menuntut PT Go-Jek Indonesia untuk menghapus performa, membuat payung hukum yang independen dari keluhan pengemudi, transparansi dalam setiap kebijakan, menstabilkan sistem menjadi lebih baik dan memberikan kebijakan tarif yang rasional untuk semua pengemudi se-Indonesia.KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Ribuan pengemudi Go-Jek melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor manajemen PT Go-Jek, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (3/10/2016). Mereka menuntut PT Go-Jek Indonesia untuk menghapus performa, membuat payung hukum yang independen dari keluhan pengemudi, transparansi dalam setiap kebijakan, menstabilkan sistem menjadi lebih baik dan memberikan kebijakan tarif yang rasional untuk semua pengemudi se-Indonesia.

Jakarta, KOMPAS.com – Penyedia layanan jasa berbasis aplikasi online, Go-Jek, tidak menampik berencana go public alias melepas saham pertama ke masyarakat (IPO/Initial Public Offering). President & Co-Founder Go-Jek Andre Soelistyo mengatakan mau para mitra (pengemudi Go-Jek dan Go-Car) ikut jadi pemegang saham.

“Kami sangat ingin sekali go public dengan cepat. Apalagi konsumen-konsumen kami, para driver kami, bisa menjadi, berpartisipasi memegang saham. Itu sangat menarik sekali, keinginannya sudah ada,” kata Andre di acara pengumuman pembelian saham Go-Jek oleh Astra International, di Jakarta, Senin (12/2/2018).

Grup otomotif terbesar di dalam negeri, Astra International, mengucurkan dana senilai 150 juta dollar Amerika Serikat (Rp 2 triliun) buat Go-Jek. Hal itu menjadikan Astra International investor terbesar Go-Jek saat ini.

Baca: Astra International Beli Saham Go-Jek Rp 2 Triliun

Astra International menggelontorkan dana 150 juta dollar AS (Rp 2 T) untuk Go-Jek.Febri Ardani/KompasOtomotif Astra International menggelontorkan dana 150 juta dollar AS (Rp 2 T) untuk Go-Jek.

Meski sudah ada keinginan go public, namun masih ada hambatan yang bikin hal itu belum jadi kenyataan. Andre menyoroti regulasi dari pemerintah.

“Ini topik yang sangat menarik, karena di Indonesia sendiri perusahaan seperti kami masih muda, jadi sejarah keuangannya masih dibangun. Kedua, mungkin masih ada sedikit kendala, di luar negeri sendiri lebih fleksibel apakah perusahaan harus go public, apakah perusahaan bisa memiliki kelas saham yang berbeda. Ini mungkin wacana yang kami sampaikan ke pemerintah untuk lebih meningkatkan fleksibilitas,” beber Andre.

Bukan hanya Go-Jek, sebut Andre, perusahaan lokal lain seperti Tokopedia dan Traveloka juga terhambat go public karena peraturan di dalam negeri yang belum menyesuaikan.


Komentar
Close Ads X