SEMARANG, KOMPAS.com - Setiap interval jarak tempuh 7.500 hingga 10.000 kilometer (km), pemilik mobil diharuskan melakukan perawatan wajib.
Salah satunya melakukan pergantian oli yang jadi prioritas untuk menjaga performa komponen di dalam mesin.
Meski mengganti oli bisa dilakukan sendiri atau di luar bengkel resmi, namun tetap ada aturan mainnya. Hal tersebut belajar dari pengalaman, karena pada praktiknya banyak pemilik yang tak memahami soal takarannya.
Artinya, mengganti oli mesin tak bisa asal. Volume liter harus sesuai, tak boleh lebih apalagi sampai kurang.
Lantas apakah fatal dampaknya?
Baca juga: Ada Honda WR-V, Cek Perbandingan Harga SUV Murah November 2022
Ilustrasi seorang mekanik mengganti oli mobil.
Kepala Bengkel Nasmoco Majapahit Semarang Bambang Sri Haryanto mengatakan, mesin kelebihan atau kekurangan oli sama-sama merugikan.
"Ganti oli setiap mobil ada takarannya bisa di kontrol dari disptick. Belum tentu bisa menyamakan takaran oli mobil tipe A dengan tipe B, atau lainnya," kata Bambang kepada Kompas.com, Jumat (4/11/2022).
Perlu di ingat, kekurangan oli mesin dampaknya berpeluang lebih fatal dibandingkan kelebihan oli. Suhu kerja mesin bisa di luar batas, risikonya mesin mengalami overheat.
Sistem pelumasan yang tidak maksimal memicu keausan komponen lebih cepat. Dampaknya serius, mesin mobil bisa pecah.
"Mesin mobil yang kurang oli terdengar sangat kasar karena gesekan antar komponen. Jika tidak ketahuan, kerusakan bisa menjalar komponen mekanikal lain, rugi besar," kata dia.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanPeriksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.