Sekolah Mengemudi Belum Bisa Jawab Masalah Tingginya Tingkat Kecelakaan

Kompas.com - 13/09/2022, 19:01 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyatakan bahwa sekolah mengemudi belum bisa menjawab masalah atas tingginya tingkat kecelakaan kendaraan bermotor.

Sebab, faktor utama yang kerap menjadi penyebab terjadinya kecelakaan yang sekaligus paling sulit diatasi ialah budaya tertib berlalu lintas. Bukan hanya soal pengetahuan berlalu lintas semata.

"Melalui sekolah mengemudi, memang mereka diberikan pemahaman terkait aturan dan ketrampilan. Tetapi masalahnya itu ialah culture, budaya dan ini tumbuhnya bukan di sekolah mengemudi," kata dia saat ditemui di Jakarta, Selasa (13/9/2022).

Baca juga: Kecelakaan Motor Terjadi Mayoritas di Jalanan Lurus dan Cuaca Cerah

Ilustrasi kecelakaan lalu lintas.  SHUTTERSTOCK/osobystist Ilustrasi kecelakaan lalu lintas.

"Iya kamu tahu harus disiplin, kalau tidak akan ditilang, dan lain sebagainya. Tetapi masalah disiplin itu merupakan budaya, suatu yang berbeda," lanjut Soerjanto.

Sehingga, menurut dia, paling efektif menjawab masalah itu ialah pembelajaran dan pembekalan sejak dini soal berkendara. Tetapi diakui sampai sekarang ini belum ditemukan langkah paling efektif melakukannya.

Oleh karena itu, KNKT bersama instansi dan para pemangku kepentingan akan berkerja sama untuk berupaya merumuskan hal tersebut.

Langkah pertama, KNKT menerima segala masukkan dari pihak Korlantas Polri, ATPM, serta komunitas sebagai perwakilan pengendara. Kemudian, dirumuskan suatu rekomendasi yang akan diberikan ke semua stakeholder yang terlibat.

"Seperti masalah edukasi, nanti kita berkirim surat memberikan rekomendasi. Hasil penelitiannya bagaimana dengan teman-teman dari Universitas, saran mereka dari sisi edukasi, kita sampaikan supaya masalah kedisiplinan ini bisa diperbaiki," ucap Soerjanto.

Baca juga: Angka Kecelakaan Sepeda Motor Tahun Ini Sudah Tembus 120.284 Kasus

Ilustrasi sekolah mengemuditopgearsofm.co.uk Ilustrasi sekolah mengemudi

Sebagai contoh, menurut pengalamannya, di Swedia cara mendidik masyarakat agar patuh menggunakan sabuk pengaman dengan dibawa ke tempat khusus yang sudah tersedia kendaraan buatan.

Di sana, anak-anak diajak naik dan kendaraan tersebut ngerem mendadak dan membuat mereka merasakan sensasi bagaimana jika tidak menggunakan sabuk pengaman ketika berada di suatu kendaraan roda empat atau lebih.

"Teman saya sjadinya itu seumur hidup tidak pernah lupa pentingnya sabuk pengaman. Cara didiknya bukan ditakuti kalau jika tidak pakai sabuk pengaman akan ditilang, tetapi kesadaran atas kebutuhannya," jelas dia.

"Contoh lain, teman anak saya yang sekolah di Internasional, mereka untuk mengenal satu simbol lalu lintas diajarkan dalam satu minggu. Benar-benar diberi pemahaman, bukan hanya sekadar untuk ujian sekolah saja," tambah Soerjanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.