Usai Formula E, Mobil Listrik Diyakini Makin Digemari

Kompas.com - 06/06/2022, 09:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo meyakini bahwa kendaraan bermotor listrik semakin digemari oleh para pecinta otomotif di Indonesia usai perhelatan Formula E.

Hal ini terbukti dari tingginya antusias ketika kejuaran mobil rendah emisi kelas dunia tersebut digelar pada Sabtu (4/6/2022) kemarin. Sehingga di jangka menengah dan panjang, bisa mempercepat perkembangannya.

"Dalam road map pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kendaraan ini sangat potensial," katanya, Minggu (5/6/2022).

Baca juga: Hasil MotoGP Catalunya 2022, Quartararo Juara, Aleix Espargaro Memalukan

Petugas mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Ultra Fast Charging, Central Parking Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (25/3/2022). SPKLU Ultra Fast Charging 200 kW pertama di Indonesia yang disiapkan untuk penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 itu mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik berkapasitas 80kWh hanya dalam waktu 30 menit.ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Petugas mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Ultra Fast Charging, Central Parking Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (25/3/2022). SPKLU Ultra Fast Charging 200 kW pertama di Indonesia yang disiapkan untuk penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 itu mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik berkapasitas 80kWh hanya dalam waktu 30 menit.

"Potensi sepeda motor listrik pada 2030 mencapai 13 juta unit. Sementara mobil listrik, sampai ke 2,2 juta unit," lanjut Bamsoet dalam keterangannya.

Pada kesempatan serupa, ia pun mengatakan penggunaan energi listrik sebagai pengganti BBM secara signifikan mampu mengurangi konsumsi BBM dan beban subsidi yang harus ditanggung negara.

"Selama tahun 2014-2019, jumlah subsidi BBM mencapai Rp 700 triliun. Pada APBN 2021, subsidi untuk BBM jenis tertentu mencapai Rp 16,6 triliun," kata dia.

Maka, penggunaan kendaraan listrik juga otomatis mampu menekan atas ketergantungan impor BBM. Mengingat, kebutuhan minyak mentah untuk BBM sekitar 1,3 juta barel per hari (bph).

Sedangkan kemampuan produksi di Indonesia hanya setengahnya, sekitar 700 bph.

Baca juga: Bolehkan Modifikasi Sabuk Pengaman Mobil?

"Selain menekan emisi, pengembangan kendaraan listrik sekaligus juga bisa memaksimalkan potensi sumber daya bahan baku baterai yang ada di Indonesia (nikel)," ujar Bamsoet.

Menurut dia, sejak 2018 Indonesia telah diakui sebagai raja nikel dunia dan diyakini menguasai hampir 30 persen alias sekitar 21 miliar ton atas cadangan dan sumberdaya nikel dunia.

Selain itu, Tanah Air juga kaya akan material komponen penting untuk industri baterai, antara lain 1,2 miliar ton aluminium, 51 miliar ton tembaga, dan 43 miliar ton mangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.