Industri Karoseri Tak Berdaya Lawan Impor Bus Utuh dari China

Kompas.com - 26/05/2022, 09:42 WIB

UNGARAN, KOMPAS.com - Peredaran bus listrik di Indonesia saat ini sudah semakin banyak. Misalnya di Transjakarta, sudah ada 30 bus listrik yang dioperasikan dan ditargetkan terus bertambah.

Namun, bus yang digunakan masih diimpor secara utuh dari China, memakai merek BYD. Padahal, bisa saja hanya sasis bus listrik saja yang dibawa kemudian bodinya akan dikerjakan oleh karoseri di Indonesia.

Namun ada aturan mengenai impor bus listrik, jika secara utuh, bea masuknya akan lebih rendah. Sedangkan jika mendatangkan sasisnya saja, bea masuknya lebih tinggi.

Baca juga: Lihat Bus Listrik Switch Mobility Limited, Bisa Saja Masuk Indonesia

Bus listrik buatan karoseri LaksanaINSTAGRAM/MBAH_INU Bus listrik buatan karoseri Laksana

Stefan Arman, Technical Director CV Laksana mengatakan, mengenai bea masuk, sepemahaman dirinya kalau hal tersebut diatur pada Free Trade Agreement dengan China.

"Jadi kesepakatannya bukan undang-undang Indonesia, mungkin kalau di UU berubahnya bisa lebih cepat, tapi ini di Free Trade Agreement," ucap Stefan di Ungaran belum lama ini.

Stefan mengaku kalau pihaknya kurang menyadari akan adanya kesepakatan ini. Jadi tidak menyangka dalam kesepakatan tersebut dibahas juga mengenai bea impor bus listrik.

Baca juga: Kenali Musuh Utama yang Berpotensi Bikin Ban Mobil Pecah

Menurutnya saat ini pemerintah sudah ada itikad baik yakni dengan memprioritaskan industri lokal. Namun, kesepakatan tadi masih tetap sama, belum pembaruan.

"Itikad baiknya yang saya lihat beberapa pengadaan itu mereka memprioritaskan lokal, cuman kalau regulasinya seperti itu, namanya pengusaha pasti cari lebih murah," kata Stefan.

Pihak karoseri bersama asosiasi terus mendorong pemerintah untuk memerhatikan industri lokal. Selain itu, usaha pemerintah juga harus ditingkatkan agar menyejahterakan karoseri di Indonesia.

"Tapi sebenarnya industri bus listrik memberi kesempatan karoseri untuk berkreasi lebih. Bus listrik ini lebih simpel, tapi lebih mahal. Harga sasisnya kan 3 kali lebih mahal, karena baterainya," ucap Stefan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.