Bocah SMP Tabrak Balita Pakai Motor, Bagaimana Penyelesaiannya?

Kompas.com - 30/03/2022, 19:32 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Peristiwa naas menimpa seorang balita bernama Annasya Balqis Naviza (2,8) pada Sabtu (26/3/2022). Ia ditabrak seorang siswa SMP yang mengendarai sepeda motor.

Balita tersebut dinyatakan tewas setelah terlempar sejauh 15 meter, usai ditabrak pelaku pengendara. Sedangkan motor tersebut terpental lebih jauh dari lokasi korban.

AKP Awang Briantoko, Kasatlantas Polres Lingga, mengatakan, walaupun pelakunya merupakan anak di bawah umur, berstatus siswa di SMPN 1 Lingga, hukuman pidana tetap terus berjalan.

Baca juga: Ini Lokasi Kamera Tilang Elektronik di Tol Dalam Kota

Ilustrasi siswa bermotor.Tribun Jogja Ilustrasi siswa bermotor.

“Namanya pelanggaran, atau kecelakaan akan kita proses walaupun umurnya masih kurang. Ya tentu secara keadilan kita proses, kita kan tergantung kedua belah pihak, kalau diminta lanjutkan akan kita proses lanjut,” kata Awang, dikutip dari Radar Kepri (30/3/2022).

Menanggapi kejadian ini, Budiyanto, pemerhati masalah transportasi, mengatakan, anak di bawah umur bisa dipidana. Tapi sistem peradilan anak wajib mengupayakan diversi.

“Penyelesaian perkara anak yang belum dewasa (di bawah umur) adalah dengan cara diversi,” ujar Budiyanto, kepada Kompas.com (30/3/2022).

Baca juga: Pertalite Resmi Gantikan Premium, Berikut Update Harga BBM Pertamina

Menurutnya, diversi adalah sistem penyelesaian keadilan restoratif yang melibatan para pihak: tersangka, korban, keluarga tersangka dan korban, dan petugas-petugas untuk mencari musyawarah dan mufakat.

“Intinya penyelesaian di luar pengadilan,” kata Budiyanto.

Ia juga mengatakan, syarat-syarat diversi dijelaskan dalam Perma (Peraturan Mahkamah Agung) Nomor 4 tahun 2014.

Baca juga: Bocah SMP Tabrak Balita, Ini Bahaya Anak di Bawah Umur Bawa Motor

Mulai Maret lalu, siswa bermotor di SMAN 19, Bandung, diizikan masuk gerbang sekolah bila mereka  memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan memberi tumpangan pada seorang temannya.DOK. TMMIN Mulai Maret lalu, siswa bermotor di SMAN 19, Bandung, diizikan masuk gerbang sekolah bila mereka memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan memberi tumpangan pada seorang temannya.

Di antaranya, berlaku terhadap anak yang telah berumur 12 tahun tapi belum berumur 18 tahun, atau telah berumur 12 tahun meskipun pernah kawin tetapi belum berumur 18 tahun.

“Persyaratan lain bukan merupakan perbuatan berulang. Penyelesaian diversi berlaku pada semua tingkatan pemeriksaan,” ucap Budiyanto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.