Banyak Kecelakaan Truk, Kompetensi Sopir Dipertanyakan

Kompas.com - 04/11/2021, 14:21 WIB
Sebuah mobil boks terbalik di sisi kanan Jalan Lingkar Luar Barat, Duri Kosambi, Jakarta Barat, Senin (1/11/2021) sekitar pukul 17.50 WIB. Kompas.com/MITA AMALIA HAPSARISebuah mobil boks terbalik di sisi kanan Jalan Lingkar Luar Barat, Duri Kosambi, Jakarta Barat, Senin (1/11/2021) sekitar pukul 17.50 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com – Akhir-akhir ini, kecelakaan yang melibatkan truk memang kerap terjadi, mulai dari truk trailer bahkan tronton. Tentu saja kecelakaan ini merugikan banyak pihak, apalagi kalau sampai ada korban jiwa.

Melihat kecelakaan truk yang marak terjadi, salah satu yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kompetensi pengemudinya. Mengingat salah satu faktor terjadinya kecelakaan adalah kesalahan dari pengemudi atau human error.

Marcell Kurniawan, Training Director The Real Driving Centre mengatakan, salah satu cara yang bisa meningkatkan kompetensi pengemudi truk adalah dengan pelatihan serta adanya sertifikasi.

Baca juga: Toyota Avanza Tipe Tertinggi Dibekali Teknologi TSS

Truk pengangkut gabah terguling setelah menyeruduk toko di Jalan Brawijaya, Mangli, Jember, Kamis (18/3/2021). (SURYA.CO.ID/SRI WAHYUNIK) Truk pengangkut gabah terguling setelah menyeruduk toko di Jalan Brawijaya, Mangli, Jember, Kamis (18/3/2021).

Pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 171 Tahun 2019. Pada keputusan tersebut tertulis pengemudi angkutan darat wajib kompeten sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) Nomor 269 Tahun 2014.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Namun banyak pengemudi yang uneducated yang hanya bisa mengoperasikan mobil, yang tidak melalui proper training dan asesmen. Sehingga sikap dan pengetahuannya kurang,” kata Marcell kepada Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Mulai Sengit, Suzuki Pamer Teaser Rival Avanza, Xenia, dan Xpander

Namun sayangnya, kenyataan di lapangan masih sedikit pengemudi truk yang kompeten. Marcell cuma bisa berharap kalau revisi UU Nomor 22 Tahun 2009 bis terwujud. Sehingga orang yang berprofesi pengemudi harus punya sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Sertifikat kompetensi dari BNSP sulit untuk nembak. Karena kalau ada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang sudah dilisensi BNSP melakukan jual beli sertifikat, bisa dipidanakan,” ucap Marcell.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.