Enggak Bisa Lihat Jalan Sepi, Main Langsung Geber Saja!

Kompas.com - 09/10/2021, 07:42 WIB
Sejumlah pemuda yang tidak memakai helm disebut melakukan aksi kebut-kebutan di jalanan Kota Klaten, Selasa (13/4/2021). Dok. Restu Sisworo Wilujeng JatiSejumlah pemuda yang tidak memakai helm disebut melakukan aksi kebut-kebutan di jalanan Kota Klaten, Selasa (13/4/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi jalan yang lengang kadang menjadi pemicu bagi pengendara untuk memacu kendaraannya hingga melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan.

Bukan hanya di jalan bebas hambatan, di jalan perkotaan kadang juga menjadi arena yang dimanfaatkan pengendara untuk kebut-kebutan.

Baca juga: Vinales Lego Atribut Yamaha yang Masih Tersisa

Padahal sudah ada aturan mengenai batas kecepatan maksimal dan minilal yang berlaku di Indonesia. Aturan tersebut telah tercantum dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ), khususnya pada pasal 21 ayat 1.

Aturan tersebut menjelaskan bahwa setiap kategori jalan memiliki kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara nasional. Kemudian pada ayat dua (2), kategori jenis jalan yang dimaksud, berdasarkan jalan di kawasan permukiman, kawasan perkotaan, jalan antar kota, dan jalan bebas hambatan.

ilustrasi berkendara kebut-kebutangoogle ilustrasi berkendara kebut-kebutan

Sementara batas-batas kecepatan tersebut, lebih lengkap dijabarkan pada Peraturan Pemerintah nomor 79 tahun 2013. Selanjutnya pasal 23 ayat empat (4), Bagian Kedua, mengenai Batas Kecepatan disebutkan, batas kecepatan sebagaimana dimaksud ditetapkan sebagai berikut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Catat, Ini 10 Lokasi di Jakarta yang Bakal Terapkan Tarif Parkir Mahal

a. Paling rendah 60kpj dalam kondisi arus bebas, dan paling tinggi 100kpj untuk jalan bebas hambatan.
b. Paling tinggi 80 kpj untuk jalan antarkota.
c. Paling tinggi 50 kpj untuk kawasan perkotaan.
d. Paling tinggi 30 kpj untuk kawasan permukiman.

Selanjutnya ayat 5, batas kecepatan paling tinggi dan batas kecepatan paling rendah sebagaimana yang sudah dijelaskan pada ayat 4, harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas. Jadi secara infrastruktur akan ada pemberitahuan secara fisiknya.

Padahal, aksi memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sepi bukan berarti lebih aman dibandingkan saat lalu lintas padat.

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, aksi kebut-kebutan di jalanan yang tampak sepi akan menghadirkan bahaya yang tidak terduga.

Ilustrasi mengemudi.Agung Kurniawan Ilustrasi mengemudi.

Bahkan, kondisi ini berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan yang lebih fatal dibandingkan saat kondisi lalu lintas padat atau normal.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.